RADARTUBAN – Perbankan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik gedung-gedung megah, laporan keuangan triliunan, dan logo yang akrab di mata publik, selalu ada nama manusia—dengan ambisi, insting bisnis, dan keberanian mengambil risiko.
Daftar pendiri bank dunia yang dirilis akun X Stats Globe memperlihatkan satu benang merah: sistem keuangan global banyak dibentuk oleh figur-figur yang berani menantang zamannya.
Dari Amerika Serikat hingga Asia, dari Eropa hingga Afrika, para pendiri ini tidak sekadar membangun institusi keuangan.
Mereka menciptakan ekosistem, mengubah kebiasaan masyarakat mengelola uang, bahkan ikut menentukan arah ekonomi nasional.
Amerika dan Eropa: Bankir Lama, Ide Baru
Nama Amadeo Giannini selalu punya tempat khusus dalam sejarah perbankan Amerika.
Pendiri Bank of America itu dikenal membawa konsep bank “untuk orang biasa” di saat perbankan masih eksklusif untuk elite.
Giannini membaca kebutuhan kelas menengah dan imigran—sebuah langkah yang kala itu dianggap berisiko, namun justru menjadi fondasi raksasa finansial AS.
Di Eropa, sejarah bank justru dibangun lintas generasi. Keluarga Julius Baer di Swiss dan Hans & Paul Berenberg di Jerman memperlihatkan bagaimana kepercayaan dan reputasi menjadi mata uang utama perbankan privat.
Barclays, yang didirikan John Freame & Thomas Gould di Inggris, tumbuh dari tradisi dagang sederhana menjadi simbol bank global dengan pengaruh sistemik.
Sementara itu, Richard Fairbank lewat Capital One membawa pendekatan data dan teknologi ke jantung perbankan ritel AS—menandai pergeseran bank dari sekadar institusi keuangan menjadi perusahaan berbasis analitik.
Asia: Ketika Teknologi Bertemu Bank
Di Asia, cerita pendirian bank lebih agresif dan penuh lompatan. Jack Ma dengan Ant Group Bank dan Ma Huateng melalui WeBank mematahkan definisi klasik bank.
Keuangan tidak lagi soal gedung dan antrean, melainkan aplikasi, algoritma, dan miliaran transaksi digital.
Masayoshi Son lewat PayPay Bank di Jepang menunjukkan bagaimana konglomerasi teknologi bisa masuk ke sektor yang selama puluhan tahun dikenal konservatif.
Pendekatannya sederhana namun radikal: bank harus bergerak secepat gaya hidup digital masyarakatnya.
Di Asia Selatan, Dhirubhai Ambani dengan Jio Payments Bank dan Uday Kotak melalui Kotak Mahindra Bank menampilkan dua wajah berbeda.
Ambani membawa kekuatan konglomerasi dan jaringan massal, sementara Kotak tumbuh dari visi kewirausahaan finansial yang disiplin dan terukur.
Baca Juga: KTT PBB Bahas Krisis Pendanaan SDGs, Dorong Reformasi Arsitektur Keuangan Global
Asia Tenggara dan Indonesia: Bank sebagai Alat Ekspansi Bisnis
Asia Tenggara tidak ketinggalan. Wee Cho Yaw (United Overseas Bank) dan Keluarga Khoo (OCBC Bank) membangun bank sebagai tulang punggung ekspansi regional Singapura.
Di Malaysia, Quek Leng Chan lewat Hong Leong Bank memperlihatkan bagaimana bank menjadi mesin konsolidasi bisnis lintas sektor.
Indonesia punya kisahnya sendiri. Chairul Tanjung dengan Bank Mega menjadikan bank bukan hanya institusi simpan-pinjam.
Tetapi simpul strategis ekosistem CT Corp—dari ritel, media, hingga pariwisata. Bank tidak berdiri sendiri; ia menjadi alat pengungkit bisnis lain.
Afrika dan Amerika Latin: Bertumbuh di Tengah Keterbatasan
Di Nigeria, Jim Ovia mendirikan Zenith Bank di tengah tantangan infrastruktur dan stabilitas ekonomi.
Pendekatannya tegas: tata kelola dan disiplin keuangan. Hasilnya, Zenith tumbuh menjadi salah satu bank paling disegani di Afrika.
Amerika Latin diwakili André Esteves dengan BTG Pactual, bank investasi Brasil yang dibangun dengan mental agresif khas pasar berkembang—cepat, berani, dan oportunistik.
Bank, Pendiri, dan Arah Masa Depan
Daftar yang dirilis Stats Globe ini menegaskan satu hal penting: bank tidak pernah netral.
Karakter pendirinya—latar belakang, cara berpikir, dan kepentingan bisnis—selalu membentuk DNA institusi.
Bank milik teknolog akan berbeda napasnya dengan bank keluarga lama. Bank yang lahir dari krisis akan punya refleks berbeda dengan bank yang tumbuh dari stabilitas.
Di tengah disrupsi digital dan tekanan regulasi global, warisan para pendiri ini masih terasa kuat.
Nama boleh tertulis di buku sejarah, tetapi keputusan mereka terus memengaruhi siapa yang mendapat akses kredit, siapa yang dilayani, dan ke mana uang mengalir.
Perbankan, pada akhirnya, bukan sekadar soal angka. Ia adalah cermin kekuasaan, visi, dan keberanian manusia yang mendirikannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni