Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

9 Kebiasaan Orang yang Terlihat Sukses, Padahal Kondisi Finansialnya Tidak Stabil

Cicik Nur Latifah • Jumat, 10 April 2026 | 19:02 WIB
seseorang yang terlihat sukses padahal tidak.(Freepik/dikushin)
Ilustrasi seseorang yang terlihat sukses padahal tidak.(Freepik/dikushin)

RADARTUBAN - Di era media sosial dan tekanan gaya hidup modern, definisi “sukses” sering kali menjadi kabur. Banyak orang merasa perlu terlihat berhasil, bahkan ketika kondisi finansial mereka sebenarnya tidak stabil.

Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi. Dalam psikologi, perilaku tersebut sering berkaitan dengan kebutuhan akan validasi, rasa tidak aman, serta tekanan sosial yang tinggi.

Menariknya, terdapat pola kebiasaan tertentu yang kerap muncul pada orang yang berusaha tampak kaya atau sukses, padahal kenyataannya tidak demikian.

Baca Juga: 8 Perjuangan Berat yang Membentuk Perempuan Tangguh Secara Mental

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (6/4), berikut sembilan kebiasaan yang sering teridentifikasi menurut perspektif psikologi:

1. Terobsesi dengan Penampilan Luar

Orang dalam kategori ini biasanya sangat memperhatikan tampilan fisik, mulai dari pakaian bermerek, gadget terbaru, hingga kendaraan yang terlihat mahal. Semua ini dilakukan demi menciptakan kesan status sosial tinggi.

Padahal, tidak jarang barang-barang tersebut diperoleh melalui cicilan atau bahkan utang.

2. Sering Pamer di Media Sosial

Media sosial menjadi panggung utama untuk menunjukkan gaya hidup. Mereka aktif membagikan foto liburan, makanan mahal, atau aktivitas glamor.

Namun, yang tidak terlihat adalah tekanan finansial dan pengorbanan besar di balik unggahan tersebut.

3. Menghindari Pembicaraan Tentang Keuangan

Saat topik beralih ke keuangan pribadi, seperti tabungan atau investasi, mereka cenderung menghindar atau mengalihkan pembicaraan. Hal ini karena kondisi finansial mereka tidak sesuai dengan citra yang ditampilkan.

4. Hidup dari Gaji ke Gaji

Meski terlihat mapan, banyak dari mereka sebenarnya tidak memiliki tabungan yang cukup. Pengeluaran hampir selalu menghabiskan pemasukan.

Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai financial denial, yaitu kecenderungan mengabaikan realitas keuangan.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Orang yang Selalu Bangun Pagi dengan Perasaan Bahagia

5. Menggunakan Utang untuk Gaya Hidup

Utang lebih sering digunakan untuk konsumsi, seperti membeli barang mewah, makan di tempat mahal, atau liburan, bukan untuk kebutuhan produktif. Tujuannya adalah menjaga citra, bukan memenuhi kebutuhan.

6. Membandingkan Diri Secara Berlebihan

Mereka kerap membandingkan diri dengan orang lain, baik teman, rekan kerja, maupun influencer. Perbandingan ini memicu keinginan untuk terlihat setara, bahkan jika harus memaksakan kondisi finansial.

7. Sulit Mengakui Keterbatasan

Mengatakan “tidak mampu” menjadi hal yang sulit. Mereka lebih memilih mengikuti tren demi menjaga citra diri.

Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri atau ego defense mechanism.

8. Fokus pada Pengakuan, Bukan Kesejahteraan

Alih-alih mengejar stabilitas jangka panjang, mereka lebih fokus pada bagaimana dipandang orang lain saat ini. Validasi sosial menjadi prioritas utama, meskipun harus mengorbankan kesehatan finansial dan mental.

9. Identitas Diri Bergantung pada Status

Nilai diri mereka sangat terkait dengan simbol kesuksesan eksternal, seperti uang, barang, dan gaya hidup. Ketika simbol tersebut terganggu, rasa percaya diri pun ikut menurun.

Penutup

Perilaku ini tidak semata-mata kesalahan individu, melainkan juga dipengaruhi oleh tekanan sosial yang kuat. Budaya yang menilai seseorang dari penampilan luar membuat banyak orang merasa perlu “terlihat sukses” demi diterima.

Namun, dari sudut pandang psikologi, kebahagiaan dan kesejahteraan sejati justru datang dari kejujuran terhadap diri sendiri, pengelolaan keuangan yang sehat, serta penerimaan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Alih-alih berusaha terlihat kaya, membangun kestabilan finansial yang nyata jauh lebih bernilai, meskipun tidak selalu tampak di permukaan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#psikologi #kebiasaan #suka #keuangan #finansial