Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

IHSG Terpuruk di Asia, Anjlok 17,81 Persen YTD Saat Bursa Regional Melaju Kencang

Tulus Widodo • Rabu, 29 April 2026 | 08:36 WIB
Ilustrasi IHSG Anjlok
Ilustrasi IHSG Anjlok

RADARTUBAN – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD) menjadi sorotan tajam. 

Di saat mayoritas bursa Asia melesat, indeks acuan Indonesia justru terjerembap paling dalam dengan penurunan mencapai -17,81 persen dan bertengger di level 7.106,62.

Data yang dihimpun dari berbagai indeks regional menunjukkan kontras mencolok. KOSPI milik Korea Selatan memimpin dengan lonjakan 59,97 persen, diikuti TSEC Weighted Index Taiwan sebesar 36,78 persen. Sementara Nikkei 225 Jepang juga solid dengan kenaikan 20,26 persen.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Naik Akibat Ketegangan Timur Tengah, IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidatif

Asia Melaju, Indonesia Tersendat

Di kawasan Asia Tenggara, tren positif juga terlihat. SET Index Thailand naik 17,42 persen, disusul Straits Times Index Singapura 5,31 persen, dan VN Index Vietnam 3,86 persen. 

Bahkan SSE Composite Index China tetap mencatat kenaikan tipis 2,96 persen.

Sebaliknya, tekanan juga dirasakan beberapa negara, namun tidak sedalam Indonesia. S&P BSE Sensex India turun -9,29 persen, sementara Filipina melemah -2,51 persen.

Alarm untuk Pasar Domestik

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: mengapa IHSG tertinggal jauh?

Secara fundamental, tekanan global seperti suku bunga tinggi dan arus modal keluar (capital outflow) memang membebani pasar negara berkembang. 

Namun, pelemahan dalam skala sedalam ini mengindikasikan adanya kombinasi faktor domestik—mulai dari sentimen investor, kinerja emiten, hingga persepsi risiko terhadap ekonomi nasional.

Lebih dari sekadar angka, penurunan ini mencerminkan berkurangnya kepercayaan investor dalam jangka pendek. 

Ketika indeks lain mampu memanfaatkan momentum pemulihan global, IHSG justru kehilangan pijakan.

Baca Juga: IHSG Sempat Anjlok Lebih dari 2 Persen, Berhasil Bangkit ke Zona Hijau di Tengah Tekanan Global

Momentum yang Hilang

Reli besar di Korea dan Taiwan ditopang sektor teknologi dan semikonduktor. Sementara Jepang diuntungkan reformasi korporasi dan pelemahan yen. 

Indonesia, yang selama ini bertumpu pada komoditas, menghadapi tantangan saat harga global tidak lagi memberikan dorongan signifikan.

Jika tidak ada katalis baru—baik dari kebijakan, stimulus, atau perbaikan kinerja emiten—IHSG berisiko terus tertinggal.

Namun pasar saham selalu bergerak dinamis. Tekanan hari ini bisa menjadi peluang esok hari, asalkan fondasi diperkuat dan kepercayaan investor dipulihkan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#KOSPI #Bursa Regional #YTD #indeks harga saham gabungan #ihsg