RADARTUBAN – Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum juga mereda pasca pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Mei 2026.
Gelombang aksi jual masih membayangi pasar, terutama pada saham-saham yang didepak dari indeks global tersebut.
Dua emiten yang paling menjadi sorotan adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk.
Saham DSSA dan BREN mengalami tekanan signifikan setelah resmi dicoret dari indeks MSCI, memicu penurunan kapitalisasi pasar sekaligus menjadi beban utama laju IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Situasi ini membuat pelaku pasar bergerak lebih hati-hati. Investor asing terlihat mulai melakukan penyesuaian portofolio, sementara investor domestik cenderung menunggu arah pasar berikutnya di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: IHSG Anjlok ke Level 6.462, Sufmi Dasco dan Bos OJK Datangi BEI Saat Pasar Saham Berguncang Hebat
OJK : Pergerakan IHSG Kini Lebih Sejalan dengan Fundamental
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewa, menilai tekanan terhadap IHSG saat ini tidak semata dipicu faktor domestik.
Menurutnya, kondisi geopolitik Timur Tengah hingga ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi psikologi pasar.
Selain faktor eksternal, OJK juga menilai perubahan pola pergerakan indeks dipengaruhi transformasi yang sedang berlangsung di pasar modal Indonesia.
"Jadi kita melihat pergerakan indeks kita sudah (bergerak) lebih secara fundamental dan juga sekarang IHSG pergerakannya juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45 dan IDX30 dan juga IDX80," katanya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5) dilansir dari IDXChannel.
Pernyataan itu memberi sinyal penting: pasar saham Indonesia mulai bergerak lebih rasional dan tidak lagi sepenuhnya ditopang saham-saham berkapitalisasi jumbo tertentu.
Era Baru Pasar Saham Indonesia?
Koreksi tajam yang terjadi memang memunculkan kekhawatiran jangka pendek. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dianggap sebagai fase “normalisasi” pasar setelah sebelumnya sejumlah saham mengalami reli ekstrem.
Pelaku pasar kini menunggu apakah IHSG mampu menemukan titik keseimbangan baru di tengah kombinasi sentimen global, arus dana asing, dan proses penyesuaian indeks internasional.
Jika tekanan eksternal mulai mereda, bukan tidak mungkin IHSG kembali bergerak stabil dengan fondasi yang lebih sehat dan berkelanjutan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni