RADARTUBAN – Pidato ekonomi perdana Presiden Prabowo Subianto di DPR yang semestinya menjadi panggung optimisme justru berubah menjadi alarm bagi pasar keuangan domestik.
Investor yang awalnya sempat menyambut positif arah kebijakan pemerintah, mendadak berbalik panik begitu detail pidato mulai dicerna.
Hasilnya brutal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 0,82 persen atau turun 52,18 poin ke level 6.318,50 pada perdagangan Rabu (20/5).
Sementara Rupiah makin tersungkur hingga menyentuh Rp 17.707 per dolar AS di pasar spot—level terlemah sepanjang sejarah.
Baca Juga: IHSG Tertekan Usai Rebalancing MSCI, OJK Sebut Pergerakan Pasar Kini Lebih Fundamental
Pasar Ketakutan Saat Negara Mulai Ingin “Mengatur Harga Dunia”
Salah satu bagian pidato yang paling membuat pasar gelisah adalah pernyataan Prabowo soal keinginan Indonesia menentukan sendiri harga komoditas strategis seperti nikel dan kelapa sawit.
“Kita merasa aneh, kita produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tapi harga kelapa sawit ditentukan negara lain,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Secara politik, pernyataan itu terdengar patriotik. Namun bagi pelaku pasar, kalimat tersebut dibaca sebagai sinyal lahirnya intervensi besar negara terhadap mekanisme perdagangan global.
Investor langsung khawatir pemerintah akan membentuk regulasi ekspor yang lebih agresif, membatasi penjualan, hingga menciptakan ketidakpastian baru bagi sektor energi dan tambang.
Efeknya instan: saham-saham komoditas rontok berjamaah.
Rupiah Dilepas, Pasar Mulai Curiga
Kecemasan lain muncul dari asumsi kurs dalam dokumen KEM-PPKF RAPBN 2027 yang berada di rentang Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar AS.
Bagi investor, angka itu terasa seperti pengakuan diam-diam bahwa pelemahan Rupiah mulai “dinormalisasi”.
Pasar membaca pemerintah dan otoritas moneter kemungkinan mulai memberi ruang kurs bergerak lebih lemah demi menjaga fiskal dan ekspor tetap aman. Akibatnya, arus keluar modal asing kembali membesar.
Baca Juga: IHSG Anjlok ke Level 6.462, Sufmi Dasco dan Bos OJK Datangi BEI Saat Pasar Saham Berguncang Hebat
BI Rate dan Timur Tengah Tambah Tekanan
Di luar pidato Prabowo, pasar juga sedang gelisah menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Banyak analis memprediksi BI terpaksa menaikkan suku bunga demi menghentikan kejatuhan Rupiah.
Tekanan global ikut memperparah keadaan. Lonjakan yield obligasi Amerika Serikat dan memanasnya konflik Timur Tengah membuat investor global semakin defensif terhadap aset negara berkembang.
Meski begitu, pasar masih memberi sedikit ruang napas setelah pemerintah memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis menjadi Rp 268 triliun. Langkah itu dianggap menunjukkan disiplin fiskal.
Namun satu pesan sudah telanjur tertangkap pasar: pidato Prabowo kemarin bukan sekadar pidato ekonomi biasa, tetapi sinyal bahwa arah permainan ekonomi Indonesia mulai berubah lebih keras dan penuh risiko baru. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni