Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Aset Bank Pembangunan Daerah Tembus Rp 1.036 Triliun, Tapi Kredit Masih Tumbuh Lambat

Tulus Widodo • Sabtu, 23 Mei 2026 | 14:38 WIB
Aset Bank Pembangunan Daerah Tembus Rp 1.036 Triliun
Aset Bank Pembangunan Daerah Tembus Rp 1.036 Triliun

RADARTUBAN – Di tengah persaingan ketat industri perbankan nasional dan tekanan ekonomi global yang belum benar-benar reda, Bank Pembangunan Daerah (BPD) justru menunjukkan daya tahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset BPD nasional kini sudah menembus Rp 1.036,51 triliun per Maret 2026.

Angka itu tumbuh 3,20 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sebuah sinyal bahwa bank-bank milik daerah masih punya napas panjang di tengah dominasi bank besar nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan ketahanan BPD juga terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tetap tinggi di level 26,19 persen.

“Pertumbuhan aset BPD melaju positif hingga menyentuh angka Rp 1.036,51 triliun per Maret 2026,” ujarnya dilansir dari IDX Channel.

Baca Juga: IHSG Tertekan Usai Rebalancing MSCI, OJK Sebut Pergerakan Pasar Kini Lebih Fundamental

Kredit Naik, Tapi Belum Benar-Benar Ngebut

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BPD memang terus tumbuh. Nilainya naik dari Rp 562,85 triliun pada Desember 2022 menjadi Rp 656,87 triliun per Maret 2026.

Namun di balik angka jumbo itu, ada satu catatan yang mulai mengundang tanda tanya pasar: pertumbuhan kredit tahunan BPD hanya berada di level 1,59 persen.

Di saat sejumlah bank nasional agresif memburu ekspansi pembiayaan, laju kredit BPD justru terlihat lebih hati-hati. 

Sikap konservatif ini memang membuat risiko lebih terjaga, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan: apakah BPD terlalu nyaman bermain aman?

Dana Nasabah Mengalir Deras

Menariknya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru lebih tinggi dibanding kredit. Hingga Maret 2026, DPK BPD tumbuh 4,74 persen yoy menjadi Rp 782,04 triliun.

Artinya, likuiditas bank daerah sebenarnya cukup longgar. Uang masyarakat masuk, tetapi ekspansi kredit belum sepenuhnya agresif.

Fenomena ini memperlihatkan dua sisi berbeda. Di satu sisi, BPD berhasil menjaga kepercayaan nasabah. 

Namun di sisi lain, kemampuan mengubah dana menjadi mesin pertumbuhan ekonomi masih belum maksimal.

Rasio Kredit Bermasalah Tetap Aman

Meski begitu, kualitas pembiayaan BPD masih relatif sehat. OJK mencatat rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross berada di level 3,26 persen, sedangkan NPL Net tercatat 1,27 persen.

Angka itu menunjukkan bank daerah masih cukup disiplin menjaga kualitas kredit di tengah situasi ekonomi yang penuh tekanan.

BPD kini berada di persimpangan penting. Modal kuat, likuiditas tebal, dan aset terus tumbuh. 

Tetapi tanpa keberanian mempercepat kredit produktif, bank daerah berisiko hanya menjadi “penjaga kas daerah” tanpa daya dobrak besar terhadap ekonomi riil. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ekonomi global #bpd #OJK #bank pembangunan daerah