RADARTUBAN – Di balik gemerlap reli saham dan optimisme pasar modal nasional, terdapat satu persoalan yang kini menjadi perhatian serius investor global: tingginya konsentrasi kepemilikan saham pada sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Isu tersebut kembali mencuat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti masalah High Shareholding Concentration (HSC), atau kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan MSCI masih menahan penilaian terhadap kelayakan investasi pasar saham Indonesia.
Melansir data yang dirangkum EmitenNews menunjukkan sedikitnya terdapat 13 emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi.
Bahkan beberapa di antaranya mendekati angka 100 persen.
Baca Juga: MSCI Masih Menggantung Indonesia, Ancaman Turun Kelas Bursa Kian Nyata Menghantui Investor
ROCK dan IFSH Puncaki Daftar
PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) menjadi emiten dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi, mencapai 99,85 persen.
Di bawahnya terdapat PT Ifishdeco Tbk (IFSH) sebesar 99,77 persen dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) sebesar 98,35 persen.
Nama-nama lain yang masuk daftar antara lain PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT Mahkota Group Tbk (MGRO).
Secara sederhana, semakin tinggi angka HSC, semakin kecil porsi saham yang benar-benar beredar dan dapat diperdagangkan bebas di pasar.
Mengapa Investor Global Khawatir?
Bagi investor institusi internasional, persoalan ini bukan sekadar angka statistik.
Tingginya konsentrasi kepemilikan berpotensi mengurangi likuiditas perdagangan dan meningkatkan risiko volatilitas harga.
Ketika mayoritas saham dikuasai segelintir pemegang saham, mekanisme pembentukan harga yang sehat dapat terganggu. Akibatnya, investor global menjadi lebih berhati-hati menempatkan dana mereka.
Kekhawatiran inilah yang belakangan mendapat perhatian khusus dari MSCI dalam evaluasi pasar Indonesia.
Baca Juga: IHSG Anjlok ke Level 6.462, Sufmi Dasco dan Bos OJK Datangi BEI Saat Pasar Saham Berguncang Hebat
Ujian Berat Bursa Indonesia
OJK, BEI, dan KSEI sebenarnya telah menyiapkan berbagai reformasi, termasuk roadmap peningkatan minimum free float menjadi 15 persen dan penguatan transparansi kepemilikan saham.
Namun pekerjaan rumahnya masih besar. Sebab, pasar tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga implementasi nyata.
Jika persoalan HSC tidak segera membaik, dampaknya bisa jauh lebih serius daripada sekadar catatan evaluasi.
Status Indonesia sebagai bagian dari kelompok Emerging Markets berpotensi kembali dipertanyakan, sesuatu yang dapat memengaruhi arus dana asing dan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.
Di tengah persaingan memperebutkan investasi global, daftar 13 emiten bertato HSC itu kini bukan lagi sekadar data.
Ini telah berubah menjadi alarm yang berbunyi keras di jantung Bursa Efek Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni