RADARTUBAN – Hilirisasi nikel Indonesia kembali mendapat suntikan kepercayaan dari investor asing.
Kali ini, perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia.
Jika terealisasi, investasi tersebut akan menjadi kepingan penting yang selama ini masih kurang dalam rantai pasok industri baterai nasional.
Langkah PBT dinilai bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga sinyal bahwa Indonesia semakin diperhitungkan sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia.
Dengan cadangan nikel yang melimpah dan pembangunan fasilitas pengolahan yang terus berkembang, daya tarik Indonesia bagi investor global kian sulit diabaikan.
Baca Juga: Tegas! Prabowo Minta Harga Sawit dan Nikel Tak Lagi Ditentukan Negara Asing di Pasar Dunia
Mata Rantai Industri Baterai Mulai Lengkap
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan Indonesia telah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menjadi fondasi pengolahan nikel untuk industri baterai.
Menurutnya, pembangunan manufaktur sel baterai juga akan segera terwujud sehingga rantai industri semakin utuh.
"Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," kata Todotua dikutip dari IDX Channel.
Perkuat Kemitraan Indonesia-Australia
Todotua menyambut positif rencana investasi PBT karena dinilai sejalan dengan strategi pemerintah mempercepat hilirisasi mineral bernilai tambah tinggi.
Ia menegaskan kerja sama Indonesia dan Australia melalui Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) menjadi fondasi penting dalam mendorong arus investasi yang lebih besar, khususnya di sektor industri strategis.
Peluang Jadi Pemain Utama Industri EV
Masuknya PBT menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai pemasok bahan baku nikel, tetapi mulai dipercaya menjadi basis produksi komponen utama baterai kendaraan listrik.
Jika investasi ini terealisasi, posisi Indonesia dalam rantai pasok global akan semakin kuat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta percepatan pembangunan industri hilir agar nilai tambah tidak lagi dinikmati negara lain, melainkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni