RADARTUBAN – Perebutan pengaruh global ternyata tidak hanya terjadi di meja diplomasi atau medan teknologi. Di balik pasokan energi dunia, segelintir perusahaan minyak dan gas mengendalikan kapitalisasi pasar hingga ribuan triliun rupiah.
Yang paling mencolok, Saudi Aramco masih berdiri sendirian di puncak, meninggalkan para pesaingnya dengan selisih yang sangat lebar.
Data yang dirangkum 3M Magazine menunjukkan Saudi Aramco menjadi perusahaan migas paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,748 triliun.
Angka tersebut bahkan hampir tiga kali lipat lebih besar dibanding pesaing terdekatnya.
Aramco Masih Sulit Digoyang
Di posisi kedua bercokol ExxonMobil dengan kapitalisasi pasar US$ 626,84 miliar, disusul Chevron (US$ 335,10 miliar) dan PetroChina (US$ 334,18 miliar). Posisi lima besar ditutup oleh Shell dengan nilai pasar US$ 243,48 miliar.
Sementara itu, lima besar berikutnya ditempati CNOOC (US$ 173,63 miliar), TotalEnergies (US$ 170,52 miliar), ConocoPhillips (US$ 143,05 miliar), Sinopec (US$ 122,61 miliar), dan Petrobras (US$ 117,02 miliar).
Tiga Negara Mendominasi Energi Dunia
Daftar tersebut memperlihatkan satu fakta menarik. Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Tiongkok menjadi kekuatan utama industri migas global.
Amerika Serikat menempatkan tiga perusahaan dalam daftar elite, yakni ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips.
Tiongkok juga mengirim tiga wakil melalui PetroChina, CNOOC, dan Sinopec. Dominasi ini mencerminkan besarnya pengaruh ketiga negara dalam menentukan arah investasi, produksi, hingga stabilitas pasar energi dunia.
Kapitalisasi Besar, Pengaruh Semakin Kuat
Kapitalisasi pasar bukan sekadar angka di bursa saham. Nilai tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis sebuah perusahaan sekaligus menunjukkan besarnya pengaruh korporasi dalam industri energi global.
Meski dunia terus bergerak menuju energi bersih dan rendah emisi, daftar ini membuktikan bahwa perusahaan minyak dan gas masih menjadi pemain utama ekonomi dunia.
Selama kebutuhan energi fosil belum tergantikan sepenuhnya, para raksasa migas ini akan tetap menjadi aktor penting yang ikut menentukan arah perekonomian global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni