RADARTUBAN – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mulai mengubah peta investasi di pasar modal Indonesia.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan tingginya suku bunga, saham-saham perbankan yang selama ini menjadi primadona dinilai mulai kehilangan sebagian daya tariknya.
Sebaliknya, perhatian investor kini mulai mengarah kepada emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar AS.
Perusahaan dengan karakter tersebut dianggap lebih mampu bertahan menghadapi gejolak global sekaligus berpeluang menikmati keuntungan dari penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Polisi Temukan Brankas Tersembunyi Saat Geledah Rumah di Sentul, Isinya 74 Kg Emas Hingga Uang Dolar
Sucor Sekuritas Ubah Strategi, Kurangi Porsi Saham Bank
Pandangan tersebut disampaikan Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas, Arief Putra, dalam riset yang diterbitkan pada 10 Juli 2026.
"Investor sebaiknya mulai mengurangi posisi overweight pada saham perbankan dan meningkatkan alokasi ke emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS," ungkap Arief dikutip dari IDX Channel.
Sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD), dolar AS telah menguat sekitar 8 persen terhadap rupiah.
Kondisi itu dinilai bukan sekadar dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga perubahan arus investasi global.
AI dan Geopolitik Jadi Pemicu Dolar Semakin Kuat
Arief menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu tantangan fiskal di dalam negeri, derasnya arus modal menuju saham-saham kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong harga energi naik.
"Kombinasi faktor tersebut memperkuat permintaan global terhadap likuiditas dolar AS," ujarnya.
Di sisi lain, likuiditas rupiah juga semakin ketat. Salah satu indikatornya adalah sejumlah bank besar yang mulai menawarkan bunga deposito di atas 8,5 persen per tahun, mencerminkan meningkatnya biaya dana di sektor perbankan.
Jangan Asal Pilih Emiten Dolar
Meski demikian, Sucor Sekuritas mengingatkan bahwa tidak semua perusahaan berpendapatan dolar layak menjadi pilihan investasi.
Arief menegaskan, emiten yang dipilih harus memiliki risiko refinancing yang rendah atau akses kuat terhadap pendanaan luar negeri.
Selain itu, perusahaan juga wajib menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) yang sehat agar tetap tangguh menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mampu menangkap peluang ketika kondisi pasar membaik.
Situasi ini menunjukkan bahwa di tengah dominasi dolar AS, investor tidak lagi cukup mengandalkan sektor favorit lama.
Seleksi emiten berbasis fundamental kini menjadi faktor penentu untuk menjaga potensi keuntungan sekaligus mengurangi risiko di tengah ketidakpastian global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni