Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rupiah Tertekan hingga Rp 18.171 per Dolar AS, Dosen UGM Jelaskan Alasan BI Naikkan Suku Bunga

Ika Nur Jannah • Selasa, 14 Juli 2026 | 13:20 WIB
Suku Bunga tinggi menunjukkan adanya urgensi tinggi. (pinterest.com)
Suku Bunga tinggi menunjukkan adanya urgensi tinggi. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Ancaman era suku bunga tinggi global kian nyata menekan perekonomian nasional. Imbasnya gini langsung dirasakan masyarakat melalui lonjakan biaya hidup, tingginya bunga kredit, dan tergerusnya daya beli. 

Guna meredam gejolak ini sekaligus menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia (BI) kembali mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5, 50 persen.

Menurut Dosen Fakultas dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Rijadh Djatu Winardi, Menilai langkah BI menaikkan suku bunga melalui mingguan menunjukkan adanya urgensi tinggi. 

Baca Juga: Dolar AS Melesat, Saham Bank Mulai Ditinggalkan? Analis Sarankan Beralih ke Emiten Berpendapatan Dolar

Menurutnya, keputusan tersebut tidak biasa Karena penyesuaian BI Rate umumnya baru diputuskan dalam RDG bulanan.

"Pemicunya jelas, rupiah menyentuh angka Rp 18.171 per Dolar AS pada 9 Juni 2026, leveln terlemah sejak krisis finansial 1998," Ungkap Dosen UGM, yang dikutip dari laman resmi universitas.

Ridjah menjelaskan adanya pergeseran tren kebijakan moneter global dibandingkan setahun sebelumnya. Jika sebelumnya mayoritas Bank sentral utama kompak memangkas suku bunga, kini tren pelanggaran tersebut tidak lagi terjadi secara serentak. 

Ia menyebut bahwa arah risiko suku bunga global saat ini cenderung bergerak ke atas. Faktor eksternal tersebut pada akhirnya mendesak Bin untuk memperketat kebijakan moneternya

"Arah risiko suku bunga kini asimetris ke atas dan itulah lingkungan eksternal yang memaksa BI ikut  mengetatkan suku bunga meski ekonomi domestik yang sedang melambat,"  katanya. 

Aksi Jual Bersih Investor Asing Tembus Rp 73.60 

Kondisi tersebut tercermin dari aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik yang menembus Rp 73.60 Trilliun sepanjang semester 1 - 2026. 

Pada saat yang sama, imbas hasil yield. Surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun sempat melonjak hingga kisaran 7,48 persen pada (10/6(. Lalu akibat tekanan jual sebelum akhirnya kembali melanda.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan kombinasi antara penyesuaian kembali harga valysi akibat tingkat diskonto yang lebih tinggi.

Serta adanya rotasi investor ke instrumen pendapatan tetap yang imbal hasilnya kini sangat kompetitif dibanding ekspektasi imbal hasil saham. 

Baca Juga: Alarm Bahaya Properti Indonesia Menyala, Kenaikan Suku Bunga BI Gerus Daya Beli dan Penjualan Rumah

"Saya kira kini kombinasi antara repricing valuasi akibat discount rate yang lebih tinggi dan rotasi investor ke instrumen pendapatan tetap yang imbal hasilnya kini sangat kompetitif dibandingkan terhadap ekspektasi return saham," Jelasnya.

Menurutnya,. Jika bi tidak mengambil langkah tersebut biaya ekonomi yang harus ditanggung justru jauh lebih besar Karena pelemahan rupiah bisa memicu lonjakan harga barang impor, terutama pangan dan energi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#biaya hiduo #suku bunga #ugm #dolar #perekonomian nasional