RADARTUBAN – Dominasi Hartono Bersaudara di puncak daftar orang terkaya Indonesia belum juga berakhir.
Pembaruan data Forbes Real Time Billionaires per 20 Juli 2026 kembali menempatkan duo pemilik Grup Djarum tersebut sebagai individu dengan kekayaan terbesar di Tanah Air.
Berdasarkan data yang dikutip dari Forbes, total kekayaan Hartono Bersaudara mencapai US$ 43,8 miliar atau sekitar Rp 786,95 triliun.
Angka tersebut menegaskan posisi mereka sebagai pemimpin daftar miliarder Indonesia, jauh di atas sebagian besar pesaingnya.
Prajogo Pangestu Terus Membayangi
Persaingan di papan atas tetap berlangsung ketat. Posisi kedua ditempati Prajogo Pangestu dengan total kekayaan US$ 39,8 miliar atau sekitar Rp 715,09 triliun.
Sementara itu, Widjaja Family berada di peringkat ketiga dengan kekayaan US$ 28,3 miliar atau sekitar Rp 508,47 triliun.
Posisi keempat ditempati pengusaha batu bara Low Tuck Kwong dengan nilai kekayaan US$ 24,9 miliar atau sekitar Rp 447,38 triliun.
Lima besar ditutup oleh Anthoni Salim & Family yang membukukan kekayaan US$ 13,6 miliar atau sekitar Rp 244,35 triliun.
Bisnis Terdiversifikasi Jadi Kunci
Mengacu pada data Forbes Real Time Billionaires per 20 Juli 2026, mayoritas nama dalam lima besar berasal dari kelompok usaha dengan portofolio bisnis yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari perbankan, industri, agribisnis, properti, hingga infrastruktur.
Di sisi lain, sektor energi masih memiliki wakil kuat melalui Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai pengendali Bayan Resources, salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia.
Daftar yang Terus Bergerak
Peringkat miliarder versi Forbes Real Time Billionaires bersifat dinamis karena mengikuti perubahan harga saham, nilai aset, serta pergerakan pasar setiap hari.
Meski demikian, pembaruan per 20 Juli 2026 menunjukkan satu fakta yang belum berubah: Hartono Bersaudara masih menjadi simbol dominasi konglomerasi Indonesia.
Jarak kekayaan yang mencapai ratusan triliun rupiah memperlihatkan betapa besarnya pengaruh kelompok usaha papan atas terhadap lanskap ekonomi nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni