Takut Mengeluarkan Uang? Bisa Jadi Itu Bukan Pelit, Melainkan Trauma Finansial 

Nadia Aulia • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 17:32 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami kecemasan saat mengelola keuangan. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi seseorang mengalami kecemasan saat mengelola keuangan. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang, berkali-kali mengecek saldo rekening, hingga menunda membeli kebutuhan meski mampu membayarnya, ternyata tidak selalu berkaitan dengan kebiasaan hidup hemat.

Kondisi tersebut bisa menjadi tanda seseorang mengalami generational money trauma atau trauma finansial yang terbentuk sejak kecil.

Fenomena ini dibahas dalam podcast Berkelas episode ke-118 bersama communication trainer, educator, aktris, sekaligus Finalis Puteri Indonesia 2017, Dea Rizkita.

Tayangan yang telah disaksikan lebih dari 6.800 kali di YouTube itu menuai banyak respons positif karena dinilai relevan dengan keresahan yang dialami generasi muda saat ini.

Dalam podcast tersebut, Dea menjelaskan bahwa memperbaiki relasi dengan uang bukan sekadar belajar mengatur keuangan, melainkan juga tentang bagaimana seseorang mampu memprioritaskan dirinya sendiri.

Baca Juga: Psikolog Sebut Penyebab Penjudi Online Sulit Berhenti Bukan Sekadar Kerugian Finansial

Menurutnya, hubungan yang tidak sehat dengan uang sering kali berakar dari pola pikir yang diwariskan sejak kecil.

Trauma finansial antargenerasi muncul ketika seseorang tumbuh di lingkungan yang memandang uang sebagai sesuatu yang harus disimpan, bukan digunakan.

Pola pikir tersebut kemudian terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial. Akibatnya, rasa aman sering kali diukur dari banyaknya uang yang dimiliki, bukan dari kemampuan mengelolanya secara bijak.

Dea menyebutkan bahwa beberapa tanda seseorang memiliki relasi yang kurang sehat dengan uang di antaranya sering mengecek saldo rekening, menunda membeli kebutuhan penting, hingga merasa cemas setiap kali harus mengeluarkan uang.

Menurutnya, kebiasaan menunda bukan selalu disebabkan oleh rasa malas, melainkan karena adanya rasa takut dan belum merasa aman secara emosional.

Selain mengubah pola pikir, Dea juga mengajak audiens untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat dalam memperlakukan uang. Ia menyarankan agar selalu membawa uang tunai secukupnya, membiasakan diri memberi dengan tulus, serta mengeluarkan uang dengan rasa syukur, bukan rasa takut.

"Uang itu cair dan memang hukum alamnya seperti itu. Yang cair harus mengalir," ujar Dea.

Ia juga membagikan afirmasi sederhana yang kerap ia ucapkan ketika menggunakan uang agar tidak terjebak dalam rasa bersalah.

"Uang ini aku keluarkan untuk kebaikan dan akan kembali kepadaku sepuluh kali lipat," tuturnya.

Menurut Dea, afirmasi tersebut bukan sekadar harapan agar uang kembali dalam jumlah lebih banyak, melainkan cara membangun keyakinan bahwa menggunakan uang untuk hal yang bermanfaat bukanlah sebuah kesalahan.

Baca Juga: Kuliah Sambil Kerja: Solusi Finansial atau Sumber Kelelahan Baru?

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi yang dihadapi generasi muda, pembahasan mengenai trauma finansial menjadi semakin relevan. 

Tak sedikit anak muda yang hidup dalam kecemasan terhadap kondisi keuangannya tanpa menyadari bahwa ketakutan tersebut dapat berakar dari pengalaman masa kecil maupun pola pikir yang diwariskan keluarga.

Melalui podcast ini, Dea mengajak masyarakat memahami bahwa kesehatan finansial tidak hanya diukur dari jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan membangun relasi yang sehat dengan uang. Sebab, uang seharusnya menjadi alat untuk bertumbuh dan memenuhi kebutuhan hidup, bukan sumber ketakutan yang terus membayangi.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
trauma pelit hemat finansial