Terlalu Hemat Justru Berbahaya? Ini Alasan Negara Bisa Ambruk Kalau Anti-Utang

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:41 WIB
Ilustrasi utang negara. (Tangkapan layar youtube satu persen)
Ilustrasi utang negara. (Tangkapan layar youtube satu persen)

RADARTUBAN- Keinginan untuk hidup bebas dari utang terdengar sangat ideal dalam skala rumah tangga. Namun, apa jadinya jika prinsip anti-utang dan hemat ekstrem diterapkan oleh sebuah negara? Ternyata, hal itu justru bisa membahayakan perekonomian nasional.

Dilansir dari kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, utang negara sebenarnya bukan hal yang menakutkan selama dikelola dengan benar.

Kebijakan yang terlalu hemat atau memangkas anggaran secara drastis justru bisa menghentikan roda ekonomi dan memicu resesi.

Untuk memahami aman atau tidaknya utang suatu negara, dilansir dalam video YouTube Satu Persen, Indonesian Life School memaparkan perbandingan kasus yang dialami oleh negara Jepang dan Yunani.

Baca Juga: Di Balik Konten Mewah, Banyak Influencer Ternyata Terlilit Utang dan Krisis Finansial

Menurut data International Monetary Fund (IMF), Jepang memiliki rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) yang sangat fantastis, yakni menembus lebih dari 200 persen. 

Angka ini jauh melebihi Yunani yang rasionya di kisaran 180 persen. Menariknya, Yunani sempat mengalami krisis hebat hingga harus dibantu IMF, sementara ekonomi Jepang tetap berdiri kokoh.

Mengapa hasilnya bisa sangat berbeda? Dikutip dari penjelasannya, sehat atau tidaknya utang negara sebenarnya ditentukan oleh tiga indikator utama:

1. Utang Tersebut Digunakan untuk Apa?

Utang yang sehat dipakai untuk kegiatan produktif seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang bisa meningkatkan kapasitas ekonomi di masa depan.

Yunani terpuruk karena utangnya banyak dipakai untuk belanja konsumtif, seperti gaji pegawai dan dana pensiun yang membengkak.

2. Berutang kepada Siapa?

Sebagian besar utang Jepang dipegang oleh warga negaranya sendiri melalui obligasi pemerintah, sehingga tidak mudah diguncang spekulasi luar.

Sebaliknya, utang Yunani mayoritas dipegang oleh investor dan lembaga asing, yang membuatnya sangat rentan ketika terjadi krisis kepercayaan pasar.

3. Menggunakan Mata Uang Apa?

Jepang berutang menggunakan mata uangnya sendiri, yaitu Yen, sehingga bank sentralnya memiliki fleksibilitas moneter yang tinggi.

Sementara Yunani menggunakan mata uang Euro yang digunakan bersama pada kawasan Eropa, sehingga mereka tidak punya kendali mandiri untuk mencetak uang atau mengelola kebijakan moneter saat kehabisan likuiditas.

Pada akhirnya, besar kecilnya angka utang maupun rasio GDP bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai kesehatan ekonomi suatu bangsa.

Memusuhi utang secara buta hanya akan menahan potensi pertumbuhan negara. Selama utang tersebut digunakan untuk hal produktif, dipinjam dari dalam negeri, dan menggunakan mata uang sendiri, utang justru menjadi alat pembangunan yang sangat ampuh untuk membawa masyarakat menuju kesejahteraan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Satu Persen
anti-utang Negara perekonomian nasional hemat