Alarm Bahaya Pasar Modal : MSCI Pangkas Saham Indonesia, GOTO dan CPIN Resmi Terdepak dari Kasta Global!

Tulus Widodo • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:32 WIB
MSCI memangkas jumlah saham Indonesia di Global Standard Index. (ISTIMEWA)
MSCI memangkas jumlah saham Indonesia di Global Standard Index. (ISTIMEWA)

RADARTUBAN – Kabar kurang sedap datang dari pasar modal Indonesia. Morgan Stanley Capital International (MSCI) memangkas jumlah konstituen Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes pada review Agustus 2026.

Dilansir dari IDXChannel, dua nama yang harus angkat kaki adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). 

Dengan keputusan tersebut, jumlah saham Indonesia yang bertahan di indeks bergengsi MSCI kini menyusut dari 11 menjadi hanya sembilan emiten.

Keputusan ini menjadi perhatian serius investor karena perubahan komposisi MSCI berpotensi memengaruhi arus dana investor institusi global yang menjadikan indeks tersebut sebagai salah satu acuan pengelolaan portofolio.

Baca Juga: Bobot Indonesia Mulai Bangkit, Review MSCI Agustus Ancam CPIN dan Bikin Investor GOTO Deg-degan

Untuk GOTO, keputusan MSCI sebenarnya bukan kejutan yang sepenuhnya datang tiba-tiba. 

Dalam pengumuman Mei 2026, MSCI telah menyatakan akan meninjau kembali likuiditas GOTO pada review Agustus dan menghapus saham tersebut apabila gagal memenuhi persyaratan likuiditas.

Sembilan Saham Masih Bertahan

Setelah perubahan tersebut, sembilan saham Indonesia yang masih berada di MSCI Global Standard Indexes adalah:

- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
- PT Astra International Tbk (ASII)
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
- PT United Tractors Tbk (UNTR)

Komposisi tersebut menunjukkan betapa kuatnya dominasi saham berkapitalisasi besar dan likuid, terutama sektor perbankan. 

Data MSCI per 30 Juni 2026 juga menunjukkan BBCA, BBRI dan BMRI menjadi tiga konstituen terbesar dalam MSCI Indonesia Index.

CPIN Turun Kelas, GOTO Terpukul Likuiditas

CPIN memang tidak sepenuhnya keluar dari keluarga indeks MSCI. Saham produsen pakan ternak dan unggas tersebut turun kelas ke MSCI Small Cap Indexes.

Situasi berbeda terjadi pada GOTO. Persoalan likuiditas menjadi sorotan MSCI setelah saham GOTO sempat bertahan di harga minimum perdagangan Rp 50. 

MSCI sebelumnya secara eksplisit menyebut rendahnya likuiditas GOTO dapat menimbulkan masalah replikasi indeks.

Baca Juga: Sinyal Keras MSCI untuk Bursa Indonesia, Pembekuan Saham Global Masih Berlanjut hingga Agustus 2026

Lebih jauh, keputusan ini datang ketika MSCI memang masih menerapkan kebijakan khusus terhadap saham Indonesia. 

MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham, serta tidak melakukan penambahan maupun migrasi naik antarkelas indeks untuk sekuritas Indonesia.

Alarm untuk Pasar Modal Indonesia

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar dua nama yang terdepak.

MSCI sebelumnya menyoroti kekhawatiran investor global mengenai investability, transparansi kepemilikan, serta persoalan free float di pasar Indonesia. 

MSCI bahkan menyatakan jika tidak ada kemajuan yang memadai hingga review November 2026, opsi yang lebih serius terhadap status Indonesia sebagai pasar Emerging Market dapat dipertimbangkan.

Artinya, keluarnya GOTO dan CPIN patut dibaca sebagai sinyal keras bagi pasar modal Indonesia: ukuran perusahaan saja tidak cukup. 

Likuiditas, keterbukaan, free float, dan kemudahan investor asing keluar-masuk saham menjadi pertaruhan besar.

Jika persoalan tersebut tak kunjung dibereskan, bukan tidak mungkin tekanan berikutnya justru menyasar reputasi pasar saham Indonesia secara keseluruhan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : idxchannel
CPIN GoTo pasar modal indonesia saham MSCI