RADARTUBAN - Membuka peluang bisnis pertanian tidak melulu memerlukan lahan yang luas. Hal itu diterapkan oleh Jamaluddin Nurido, mengembangkan budidaya varietas unggulan bernama Nanas Jumbo Smooth Giant Philippine.
Keterbatasan lahan pekarangan serta tumpukan limbah plastik kerap menjadi persoalan di lingkungan masyarakat. Namun, di tangannya, masalah tersebut justru diubah menjadi peluang bisnis pertanian yang sangat menguntungkan.
Berlokasi di Dusun Barak, Kelurahan Margoluwih, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jamal juga merupakan pemilik dari Jamal Farming sekaligus penggerak Kampung Nanas Margoluwih.
Baca Juga: Dibalik Murahnya Mie Gacoan, Ini Strategi Bisnis yang Bikin Harganya Tetap Terjangkau
Berbeda dari varietas lokal pada umumnya yang berukuran standar dan berdaun tajam, nanas jumbo ini tidak memiliki duri pada daunnya.
Selain aman saat dipanen, buah ini mampu tumbuh sangat besar dengan berat berkisar antara 2 hingga 7 kilogram per buah.
Keunikan lain dari budidaya ini adalah penggunaan media tanam dari limbah galon air mineral bekas ukuran 15 liter.
Langkah kreatif ini diambil Jamal sebagai solusi untuk mengurangi sampah plastik sekaligus membuktikan jargon dari limbah menjadi rupiah.
"Awal mula kenapa kita mengembangkan tanaman nanas di galon karena keprihatinan kita dengan adanya banyak tumpukan sampah plastik. Kita ingin bahwasanya dari limbah menjadi rupiah, dari limbah menjadi berkah itu benar-benar realita di lapangan," ujar Jamaluddin Nurido.
Untuk media tanamnya, Jamal membagikan racikan sederhana berbasis perbandingan 1:1:1 dari campuran tanah subur, sekam bakar, serta pupuk organik yang telah difermentasi.
Karakter tanaman nanas yang mirip dengan tumbuhan gurun membuat pembudidayaannya tidak merepotkan.
Tanaman ini tidak membutuhkan penyiraman harian, melainkan cukup disiram satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali karena kemampuannya menangkap embun pagi.
Pemupukan pun cukup dilakukan satu bulan sekali menggunakan pupuk NPK setelah tanaman berumur satu bulan atau sudah mengeluarkan daun baru.
Pemacu pembuahan juga bisa memanfaatkan metode karbit yang dimasukkan ke titik tumbuh tanaman saat memasuki fase generatif.
Dari sisi nilai ekonomi, menanam nanas jumbo di dalam galon bekas terbukti sangat menjanjikan.
Satu buah nanas berbobot rata-rata 2 kg di dalam galon bisa dijual dengan harga sekitar Rp50.000 atau dengan patokan harga Rp25.000 per kilogram.
Terlebih lagi, investasi bibit hanya dilakukan satu kali di awal.
Setelah panen pada usia 1 tahun, satu pohon induk mampu menghasilkan 3 hingga 7 bibit baru dari bagian mahkota, ketiak daun, hingga tunas akar.
"Nanam bibit sekali sudah enggak perlu beli bibit lagi. Media tanam nanti bisa digunakan kembali, tinggal kita perbaiki dan tambahi pupuk. Ini adalah investasi jangka panjang," tambah Jamal.
Kini, keberhasilan Jamal Farming tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat sekitar hingga menjadikan Dusun Barak sebagai destinasi agro-eduwisata.
Selain dijual dalam bentuk buah segar dan bibit, tanaman nanas jumbo diproyeksikan untuk dimanfaatkan secara menyeluruh.
Dagingnya diproses menjadi berbagai makanan olahan, kulitnya difermentasi menjadi minuman probiotik, hingga daunnya diambil seratnya untuk bahan baku tekstil dan kerajinan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari