RADARTUBAN - Berawal dari modal nekat nekat jual motor dan utang bank, Trihastin Widayanti sukses membawa bisnis olahan slondok rumahan tembus pasar nasional hingga meraup kemerdekaan finansial.
Mantan buruh pabrik bersama suaminya yang berlatar belakang kuli bangunan tersebut kini sukses mengibarkan bendera Bakul slondok dari Desa Semarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Usaha keripik singkong olahan tradisional ini berhasil menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi maupun latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk mencapai puncak kesuksesan.
Perjalanan bisnis ini diwarnai perjuangan ekstra keras sejak empat tahun lalu.
Demi mengumpulkan modal awal sebesar Rp50 juta guna menyewa tempat operasional serta membeli mesin custom, pasangan suami istri ini nekat menjual sepeda motor kesayangan dan mengambil pinjaman modal kerja ke bank.
Ujian berat langsung menghadang di tahun pertama operasional mereka.
Kegagalan produksi skala besar sempat mengancam kelangsungan usaha ketika olahan dari 4,5 ton singkong mengalami kerusakan kualitas hingga berubah warna menjadi hitam dan sama sekali tidak layak jual.
"Waktu itu kita produksi 4,5 ton, kita dapat kualitas singkong yang kurang bagus. Alhasil waktu proses pengukusan itu tidak jadi slondok dan rugi. Suami sempat bilang, 'Kayaknya kita enggak cocok di usaha ini, kita udahan aja ya.' Tapi aku berpikir kalau kita terlanjur jatuh ke sungai dan enggak berenang, kita bakal tenggelam. Jadi kita kejar aja," kenang Hastin.
Momen kebangkitan usaha Bakul slondok baru tercipta pada tahun kedua operasional.
Hastin mengambil langkah strategis dengan memanfaatkan platform media sosial secara konsisten untuk mengedukasi serta memasarkan produknya.
Ketelatenannya mengunggah konten proses pembuatan slondok khas Magelang secara transparan berbuah manis dengan melonjaknya pemesanan secara daring dari berbagai penjuru daerah
Hingga kini, jaringan pemasaran digitalnya telah berhasil mendistribusikan lebih dari 40.000 paket pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia.
Keberhasilan ekspansi pasar tersebut diimbangi dengan kapasitas produksi yang kini mencapai rata-rata 2,5 kintal slondok saban harinya.
Keberhasilan finansial tidak lantas membuat Hastin melupakan lingkungan sekitar.
Dalam proses manufakturnya, Bakul Slondok secara sengaja tetap mempertahankan metode pembuatan tradisional yang mengandalkan ayakan bambu serta dandang tembaga.
Keputusan ini diambil demi menyerap puluhan tenaga kerja dari warga lokal di sekitar Desa Semarum, khususnya para lansia yang membutuhkan penghasilan tambahan.
"Ternyata kesuksesan terbesar seseorang itu bukan ditakar dari seberapa banyak harta benda yang mereka miliki, tapi ketika hidup kita bisa bermanfaat buat sesama," pungkas Hastin.
Ketekunan menggarap peluang pasar olahan singkong ini kini berbuah manis.
Selain berhasil mewujudkan rumah impian untuk masa tua bersama keluarga, Hastin juga telah menyiapkan alokasi tabungan pendidikan yang mapan bagi masa depan anak-anaknya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari