RADARTUBAN - Kebiasaan membeli rokok eceran, menggunakan pinjaman online berbunga tinggi, hingga terlibat dalam judi online sering kali dianggap sebagai bukti buruknya kemampuan mengelola keuangan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Namun, sejumlah penelitian di bidang ekonomi perilaku (behavioral economics) menunjukkan bahwa persoalan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah disiplin atau pengetahuan finansial.
Menurut pembahasan dalam kanal YouTube Social Notes, tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat menguras kapasitas mental seseorang dalam mengambil keputusan.
Saat kebutuhan dasar seperti makan, biaya sewa tempat tinggal, tagihan, hingga pendidikan keluarga harus dipikirkan setiap hari, sebagian besar energi mental akan tersita untuk menyelesaikan masalah yang paling mendesak.
Dalam kondisi seperti itu, otak cenderung berfokus pada upaya bertahan hidup dari hari ke hari dibandingkan menyusun strategi jangka panjang.
Akibatnya, keputusan yang tampak tidak rasional dari luar justru dapat terasa masuk akal bagi mereka yang sedang berada di bawah tekanan ekonomi berat.
Salah satu contohnya terlihat pada kebiasaan merokok di kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Selain faktor budaya dan lingkungan sosial, rokok kerap berfungsi sebagai bentuk hiburan murah atau pelarian sesaat dari stres yang terus menumpuk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menemukan adanya hubungan yang cukup kuat antara kondisi ekonomi rendah dan tingkat konsumsi rokok yang lebih tinggi.
"Bukan sekadar orang miskin enggak bisa ngatur duit. Mereka ini terlalu sering dipaksa buat mengambil keputusan dalam kondisi yang enggak ideal. Dan kalau seseorang terus-terusan hidup dalam kondisi kayak gini, present bias itu udah berubah jadi cara seseorang bertahan hidup," Katanya.
Dalam teori behavioral economics, kecenderungan tersebut dikenal sebagai present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan kebutuhan atau keuntungan yang bisa diperoleh saat ini dibandingkan manfaat yang baru dirasakan di masa depan.
Karena itulah tawaran pinjaman instan sering kali terasa sangat menarik bagi seseorang yang sedang menghadapi kebutuhan mendesak, meskipun konsekuensi jangka panjangnya dapat menjadi beban yang jauh lebih besar.
Tekanan ekonomi berkepanjangan juga memengaruhi cara seseorang mengonsumsi hiburan dan informasi.
Setelah menghabiskan banyak energi mental untuk menghadapi berbagai persoalan sehari-hari, banyak orang cenderung mencari konten yang ringan, menghibur, dan tidak menuntut konsentrasi tinggi sebagai sarana melepas penat.
Para peneliti menilai bahwa penyelesaian masalah ini tidak cukup hanya melalui edukasi keuangan atau pembatasan akses terhadap produk pinjaman tertentu.
Baca Juga: Melek Finansial Sejak Dini, BRI Bekali Anak Muda dengan Tiga Mindset Penting
Faktor-faktor struktural seperti pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang terjangkau, kesempatan kerja yang stabil, pendapatan yang layak, serta sistem perlindungan sosial yang efektif juga memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih sehat.
Pada akhirnya, memahami alasan di balik berbagai keputusan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah dapat membantu menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Sebab tanpa perbaikan terhadap kondisi ekonomi dasar, berbagai pilihan finansial berisiko akan terus muncul sebagai salah satu cara bertahan hidup di tengah tekanan yang mereka hadapi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni