RADARTUBAN - Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan tidak surut menghalangi peluang bisnis di bidang pertanian.
Hal tersebut dibuktikan oleh Hernando, seorang lulusan jurusan Agribisnis Universitas Jember yang sukses merintis usaha budidaya microgreens (sayuran hijau muda yang dipanen pada usia dini) di kawasan Cimanggu, Kabupaten Bogor, Jawa Timur.
Memulai usahanya sejak April 2026 bersama rekan bisnisnya, Hernando memanfaatkan ruang kamar indoor berpendingin udara (AC) sebagai media budidaya.
Dengan dukungan rak bersusun, media tanam cocopeat, serta lampu grow light, usaha bernama Bogor Microgreens ini fokus membudidayakan berbagai varietas sayuran muda seperti pea shoots (kecambah kacang kapri), radish, brokoli, hingga red amaranth.
Baca Juga: Dari Eksperimen Gagal Rusia hingga Lampu Buah Naga, Begini Listrik Mengubah Pertanian
Proses budidaya microgreens terbilang relatif singkat, yakni memakan waktu antara 7 hingga 14 hari sebelum memasuki masa panen. Di antara jenis tanaman yang ditanam, varietas pea shoots menjadi komoditas paling diminati pasar.
Baca Juga: Khoirul Ummah, Ambil Jurusan Agribisnis dan Ingin Menjadi Petani
Komoditas sayuran muda ini utamanya dipasok untuk memenuhi kebutuhan bahan masakan dan hiasan kuliner (garnish) di berbagai kafe serta restoran.
Meskipun menghadapi tantangan pasar yang khusus (niche market) dan risiko kelembapan seperti kemunculan jamur pada ruang tertutup, bisnis ini terbukti menghasilkan omzet berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan.
Ke depannya, pihak pengelola menargetkan ekspansi usaha ke skala produksi yang lebih luas.
Hernando membagikan alasannya dalam memilih bisnis budidaya microgreens di tengah persaingan usaha pertanian modern.
"Kenapa microgreens, karena mungkin yang budidaya microgreens ini masih sedikit ya dan ternyata di luaran sana pasarnya itu cukup banyak peminatnya," ujar Hernando.
Keberhasilan pengembangan pertanian perkotaan ini menjadi bukti bahwa inovasi budidaya tanaman tidak selalu membutuhkan lahan berukuran besar, melainkan kreativitas dan kecermatan dalam melihat peluang pasar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni