Umbi Yakon Viral di Media Sosial, Petani Wonosobo Kembangkan 16 Hektare hingga Jadi Produk Turunan

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 18:17 WIB
Yakon yang sempat sepi peminat mulai viral pada 2023. (pinterest.com)
Yakon yang sempat sepi peminat mulai viral pada 2023. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Umbi yakon menjadi salah satu tanaman yang menarik perhatian karena bentuknya menyerupai ubi jalar, tetapi dapat dikonsumsi langsung tanpa direbus maupun digoreng. Umbi tersebut memiliki rasa manis, renyah, dan berair seperti buah pir.

Salah satu petani yang mengembangkan tanaman yakon adalah Sarianto atau yang akrab dipanggil Antok.

Pemilik Najwa Herbal di Galurip, Damar, Kasihan, Kertek, Wonosobo, tersebut membudidayakan yakon di lahan seluas sekitar 16 hektare dengan melibatkan 108 petani.

Dalam tayangan YouTube tersebut, Antok menjelaskan yakon berasal dari pegunungan Andes di Peru, Amerika Selatan.

Tanaman tersebut masih satu keluarga dengan bunga matahari dan memiliki bunga berwarna kuning.

Baca Juga: Diejek 10 Tahun, Petani Wonosobo Ini Sulap Umbi Yakon Jadi Cuan Ribuan Pesanan per Hari

Sementara bagian umbinya tumbuh di dalam tanah dengan bentuk yang menyerupai ubi jalar atau singkong.

Berbeda dengan umbi-umbian pada umumnya, yakon dapat dikonsumsi secara langsung setelah dikupas. Tekstur umbinya renyah dan berair, sedangkan rasa manisnya disebut berasal dari kandungan inulin.

“Walaupun umbi yakon ini memiliki rasa yang manis, tetapi rasa manisnya yakon itu bukan glukosa ataupun fruktosa. Jadi manisnya yakon ini dari inulin,” ujar Antok dalam tayangan YouTube tersebut.

Menurut Antok, tingkat kemanisan yakon dapat meningkat setelah beberapa hari disimpan. Sekitar dua minggu setelah panen, rasa manisnya disebut semakin terasa dan warna umbi berubah menjadi lebih oranye.

Selain dikonsumsi langsung, yakon juga mulai dikembangkan menjadi berbagai produk turunan.

Antok menyebut umbi yakon dapat diolah menjadi sereal, sirup, dan keripik. Sementara bagian daunnya dikembangkan menjadi produk ekstrak dan kapsul.

Perjalanan Antok membudidayakan yakon dimulai sekitar 2013. Saat itu ia membeli sekitar 20 bibit yakon dari Yogyakarta dan menanamnya di sekitar rumah. Ia kemudian mencari informasi mengenai tanaman tersebut melalui jurnal penelitian dari luar negeri.

Awalnya, umbi yakon belum banyak diminati masyarakat. Antok bahkan pernah membawa hasil panennya ke pasar tradisional, tetapi sebagian umbi tersebut tidak terjual. Perubahan mulai terjadi ketika yakon menjadi viral di media sosial sekitar 2023.

Setelah salah satu konten mengenai yakon diunggah di TikTok dan Instagram, permintaan terhadap umbi tersebut meningkat. Antok kemudian mulai memasarkan produknya melalui TikTok. Dalam kondisi tertentu, pesanan disebut dapat mencapai ribuan resi dalam sehari.

Baca Juga: Cerita Singkong, Jenis Umbi yang Banyak Dimanfaatkan Masyarakat Indonesia dan Khususnya di Jawa

Meningkatnya permintaan juga mendorong Antok membangun kemitraan dengan para petani. 

Ia menyediakan bibit dan membantu kebutuhan budidaya, sedangkan petani mengembalikan bibit setelah panen untuk dikembangkan kembali kepada petani lainnya.

“Karena memang tujuan kita ya biar untuk pemberdayaan warga sekitar. Saya prioritaskan untuk tetangga-tetangga dan warga di desa sini. Karena harapanku makmur dululah kawasan daerahku ini,” tegas Antok.

Dalam budidayanya, yakon ditanam secara organik dan tidak menggunakan pestisida maupun pupuk kimia.

Lahan terlebih dahulu digemburkan dan diberi pupuk dasar, kemudian bibit ditanam dengan jarak sekitar 50 sentimeter.

Tanaman yakon membutuhkan waktu sekitar 5,5 hingga enam bulan hingga dapat dipanen.

Ciri tanaman yang siap dipanen antara lain mulai mengeluarkan bunga, ukuran daun mengecil, serta muncul ranting atau cabang dari ketiak daun.

Untuk memaksimalkan hasil, Antok juga melakukan penyortiran berdasarkan ukuran. Umbi dengan berat sekitar 300 hingga 700 gram dinilai sesuai untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara umbi yang berukuran terlalu besar atau kecil dapat diolah menjadi produk turunan seperti keripik.

Selain memberikan peluang usaha, budidaya yakon juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekitar. Antok mengatakan kegiatan tersebut membuka lapangan pekerjaan, mulai dari perawatan dan panen di lahan hingga proses pengemasan di gudang.

Ia berharap budidaya yakon dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi petani. Menurutnya, keberadaan sistem dalam usaha menjadi salah satu hal penting agar bisnis dapat tetap berjalan meskipun pemilik tidak selalu berada di lokasi.

Antok juga mendorong anak muda untuk tidak malu menjadi petani dan memanfaatkan media digital sebagai sarana pengenalan serta pemasaran produk.

Menurutnya, pertanian juga dapat dikembangkan dengan sistem yang baik dan dukungan teknologi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
umbi yakon ubi jalar wonosobo petani