RADARTUBAN - Ancaman resesi global diprediksi menjadi tantangan nyata bagi perekonomian dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Menghadapi situasi tersebut, para pemilik modal dan investor diimbau untuk lebih cermat dalam mengelola keuangannya agar tidak terjebak dalam instrumen yang salah saat krisis benar-benar terjadi.
Dalam sebuah diskusi podcast melalui kanal YouTube Bennix, ditekankan bahwa ketegangan geopolitik global serta beban utang luar negeri yang terus meningkat menjadi sinyal kuat bahwa ketidakpastian ekonomi dapat melanda siapa saja.
"Banyak orang itu enggak siap menghadapi resesi bukan karena duitnya kurang, tapi karena dia salah menempatkan uangnya. Jangan sampai itu terjadi karena sudah berulang kali gua ngelihat mulai dari krisis 98, krisis 2008, krisis pas COVID, ternyata masih banyak orang juga yang enggak ngeh dan enggak siap menghadapi resesi." katanya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Krisis Talenta, Ini Penyebab Meredupnya Keperkasaan Timnas Brasil
Berikut adalah lima jenis aset yang dinilai berbahaya dan sebaiknya ditinggalkan untuk mengantisipasi gejolak ekonomi:
Saham Spekulatif
Saham tanpa fundamental yang kuat dengan valuasi tidak wajar (overpriced) dipastikan akan mengalami penurunan paling tajam ketika likuiditas pasar mengering.
Investor disarankan fokus pada perusahaan dengan kinerja keuangan yang sehat dan defensif.
Properti dengan Utang Berlebihan (Overleverage)
Pembelian properti menggunakan utang atau margin tinggi menjadi bom waktu saat permintaan sewa menurun dan suku bunga bank justru melonjak.
Uang Tunai Menganggur Tanpa Strategi
Menyimpan uang kas secara pasif di rekening dalam jumlah besar tanpa pengelolaan produktif akan tergerus oleh laju inflasi dan potensi pelonggaran moneter, yang membuat nilai riil uang semakin melemah.
Barang Mewah dan Koleksi Non-Likuid
Aset konsumtif seperti mobil mewah, perhiasan, atau barang koleksi (lukisan) memiliki likuiditas yang sangat rendah saat krisis.
Pemilik sering kali terpaksa menjualnya dengan potongan harga yang drastis demi mendapatkan uang tunai dengan cepat.
Baca Juga: Peringatkan Krisis Pangan 2027, Mardigu Wowiek Minta Warga Waspadai Lonjakan Harga Bahan Pokok
Bisnis dengan Cadangan Kas Tipis
Investasi pada perusahaan atau usaha yang memiliki marjin tipis dan tanpa cash reserve yang kuat sangat rentan gulung tikar akibat kehabisan napas operasional saat daya beli masyarakat turun drastis.
"Resesi itu bukan soal lu kaya atau lu miskin, lu tua atau muda, enggak. Semua orang pasti kena yang namanya resesi, tapi resesi ini soal bagaimana lu bisa fleksibel. Aset-aset yang lu punya itu memberikan lu fleksibilitas buat pindah dari A ke B, ke C, ke D."
Narasumber dalam podcast tersebut menegaskan pentingnya memiliki fleksibilitas dan cadangan dana yang kuat agar dapat bertahan sekaligus memanfaatkan momentum krisis sebagai peluang investasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni