RADARTUBAN — Grup Djarum tak sekadar mengambil alih Narasi. Akuisisi ini dinilai menjadi strategi strategic complementary, dengan mempertemukan kekuatan bisnis Djarum dan aset kepercayaan yang dimiliki Narasi.
Pakar inovasi digital Dr. Indrawan Nugroho menyebut langkah PT Global Digital International (GDI), entitas investasi di bawah GDP Venture, dalam mengambil alih Narasi bukan sekadar investasi media.
Akuisisi yang diumumkan pada 8 September 2026 itu dinilai menjadi bagian dari strategi Grup Djarum membangun ekosistem media sekaligus mencari sumber pertumbuhan bisnis baru.
Konsep strategic complementary bekerja dengan mempertemukan kemampuan yang berbeda agar menghasilkan nilai tambahan.
Dalam kasus Narasi, kekuatan ekosistem Djarum bertemu dengan aset unik yang telah dibangun Narasi, terutama kepercayaan publik dan reputasi jurnalistik independen.
“Uang bisa membuat sebuah suara terdengar, tapi kepercayaan membutuhkan kerja yang jauh lebih panjang,” kata Dr. Indrawan.
Baca Juga: Felix Siauw Kritik Narasi Prabowo soal Pendidikan : Jangan Sampai Sekolah Dianggap Tak Penting
Menurutnya, nilai tersebut menjadi penting di tengah tekanan yang sedang dihadapi industri media. Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat 549 jurnalis kehilangan pekerjaan sepanjang 2025.
Sementara, berdasarkan Reuters Institute 2026, sebanyak 64 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial.
Persoalan media saat ini, bukan hanya bagaimana mendapatkan perhatian audiens, tetapi mengubah perhatian tersebut menjadi pemasukan yang cukup untuk membiayai kegiatan jurnalistik.
“Perhatian penonton sebenarnya masih ada. Yang semakin sulit adalah mengubah perhatian itu menjadi pemasukan yang cukup untuk membiayai liputan berikutnya,” ujarnya.
Di tengah kondisi itulah , Grup Djarum justru memperbesar portofolio medianya. Sebelumnya, ekosistem mereka telah mencakup Kaskus, Kumparan, IDN Media, Historia, hingga Visinema.
Strategi itu sejalan dengan pandangan Martin Hartono sejak mendirikan GDP pada 2012. Menurutnya, pengguna internet terus berpindah-pindah platform sehingga strategi yang dibangun adalah memiliki banyak merek untuk menjangkau beragam segmen audiens.
Narasi kemudian membawa kekuatan yang berbeda. Media besutan Najwa Shihab itu memiliki reputasi jurnalistik, figur Najwa Shihab, program Mata Najwa, serta rekam jejak liputan investigatif.
Baca Juga: Geger Narasi Lengserkan Presiden Sebelum 2029, Rico Marbun: Ini Ancaman Serius Bagi Demokrasi!
Dengan ini, Dr. Indrawan menilai kekuatan tersebut menjadi alasan utama yang perlu dipertahankan setelah akuisisi. Sebab, modal dan teknologi dapat digunakan untuk membangun studio atau merekrut tim produksi, tetapi kepercayaan publik membutuhkan proses panjang.
“Narasi justru paling berharga kalau dibiarkan tetap menjadi dirinya sendiri. Mengubahnya menjadi salinan media lain malah bisa menghilangkan alasan orang memilihnya,” katanya.
Karena itu, tantangan bagi pemilik baru bukan sekadar memperbesar bisnis, melainkan menjaga keseimbangan antara dukungan modal dan teknologi dengan independensi redaksi.
“Pahami dulu apa yang membuat orang memilih perusahaan itu sejak awal sebelum sibuk mengubah semuanya,” ujar Indrawan.(*).
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni