Kenapa Rupiah Punya Banyak Nol? Ternyata Bukan karena Ekonomi Lemah

Nadia Aulia • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:07 WIB
Ilustrasi rupiah dan faktor ekonomi yang memengaruhi nilai mata uang di pasar global. (Radar Tuban/AI)
Ilustrasi rupiah dan faktor ekonomi yang memengaruhi nilai mata uang di pasar global. (Radar Tuban/AI)

RADARTUBAN – Banyaknya angka nol pada Rupiah bukan berarti perekonomian Indonesia lemah. Nominal tersebut merupakan hasil perjalanan panjang inflasi, sementara nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing dipengaruhi persoalan yang lebih kompleks.

Hal tersebut dijelaskan Ferry Irwandi dalam video di kanal YouTube-nya. Menurut dia, masyarakat kerap mencampuradukkan ukuran nominal uang dengan daya beli dan nilai tukarnya.

“Untuk memahami persoalan ini kita perlu memisahkan tiga hal yang sering tercampur: satu ukuran satuan unit uang, kedua daya belinya, dan ketiga perubahan nilai tukarnya,” ujar Ferry.

Baca Juga: Tinta Kaligrafi Tradisional Jepang Dijual Puluhan Juta Rupiah, Ini Rahasia Proses Pembuatannya

Menurut Ferry, banyaknya angka nol pada Rupiah terutama merupakan hasil akumulasi inflasi dalam jangka panjang. Kenaikan harga yang berlangsung terus-menerus membuat nominal harga barang dan transaksi semakin besar.

Sejarah ekonomi Indonesia turut meninggalkan jejak pada nominal Rupiah. Salah satunya hiperinflasi pada 1965 yang disebut Ferry mencapai 650 persen.

Kondisi tersebut kemudian diperparah gejolak ekonomi pada krisis moneter 1997–1998 ketika nilai Rupiah mengalami pelemahan tajam.

Namun, menghapus angka nol melalui kebijakan redenominasi tidak serta-merta membuat perekonomian menjadi lebih kuat. Jika tiga angka nol dipangkas, misalnya, harga barang, gaji, tabungan, dan kewajiban keuangan akan disesuaikan dalam satuan baru.

“Kalau menghapus tiga nol cukup untuk membuat ekonomi kita 1000 kali lebih kuat, pekerjaan meningkatkan kesejahteraan tinggal mengedit angka aja,” lanjutnya.

Persoalan Rupiah, lanjutnya, justru berkaitan dengan struktur ekonomi. Indonesia masih menghadapi persoalan produktivitas, penguasaan teknologi, serta rendahnya nilai tambah sejumlah produk dalam perdagangan global.

Di sisi lain, Indonesia masih membutuhkan berbagai barang modal, mesin, dan teknologi dari luar negeri. Transaksi tersebut umumnya menggunakan valuta asing.

Sementara itu, produk Indonesia belum cukup banyak membuat negara lain membutuhkan Rupiah dalam perdagangan internasional.

“Kenapa dunia tidak membutuhkan Rupiah sebanyak kita membutuhkan Dolar? Karena dunia belum cukup bergantung pada Indonesia,” ujar Ferry.

Dengan demikian, banyaknya nol pada Rupiah bukan ukuran tunggal untuk menentukan kuat atau lemahnya sebuah mata uang.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18 Ribu dan IHSG Anjlok, Ada Apa dengan Ekonomi Indonesia?

Persoalan yang lebih mendasar berkaitan dengan seberapa produktif suatu negara, seberapa tinggi nilai tambah produknya, serta seberapa besar perannya dalam rantai nilai global.

“Jumlah nol itu bukan ukuran lemah atau kuat. Tapi walaupun enggak pakai nol pun, kondisi Rupiah kita di perdagangan global memang masih sangat lemah,” pungkas Ferry. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Ekonomi rupiah youtube ferry irwandi