Rupiah Punya Banyak Angka Nol, Benarkah Berarti Ekonomi Lemah? Ini Penjelasan Ferry Irwandi

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:03 WIB
Mata uang rupiah indonesia. (RADARTUBAN/AI)
Mata uang rupiah indonesia. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN — Persepsi masyarakat yang sering mengaitkan banyaknya angka nol pada rupiah dengan kelemahan ekonomi tidak sepenuhnya tepat.

Banyaknya angka nol pada nominal rupiah sebenarnya hanyalah persoalan satuan unit dan rekam jejak inflasi masa lalu, bukan penentu utama kuat atau lemahnya daya beli mata uang di tingkat global.

Hal tersebut dijelaskan oleh Ferry Irwandi di kanal YouTube @Ferry Irwandi. bahwa penyebab utama dari banyaknya angka nol pada nominal rupiah adalah akumulasi inflasi dalam jangka panjang.

Ketika tingkat harga naik dari waktu ke waktu, dibutuhkan nominal uang yang lebih besar untuk membeli barang dan jasa yang sama. 

Meskipun inflasi berhasil dikendalikan di kemudian hari, harga-harga yang sudah terlanjur naik tidak otomatis turun, sehingga nominal angka nol yang terbentuk tetap bertahan dalam sistem pencatatan transaksi.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18 Ribu dan IHSG Anjlok, Ada Apa dengan Ekonomi Indonesia?

Sejarah perekonomian Indonesia mencatat beberapa periode inflasi tinggi, seperti hiperinflasi pada tahun 1965 yang mencapai 650 persen, hingga krisis nilai tukar pada periode. 

Hal ini memicu pembesaran nominal transaksi harian masyarakat. Rencana penerapan redominasi yakni penyederhanaan nominal rupiah dengan memotong tiga angka nol juga dinilai hanya bersifat penataan administrasi dan tidak akan otomatis mengubah daya beli, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maupun memperkuat ekonomi secara mendadak.

Terkait kondisi ril mata uang nasional, Ferry Irwandi menyoroti lemahnya posisi rupiah di mata internasional yang bersumber dari masalah struktural

"Kenapa dunia tidak membutuhkan rupiah sebanyak kita membutuhkan dolar? Karena dunia belum cukup bergantung pada Indonesia." Ujar Ferry 

Meski rupiah lemah, alasannya bukan karena jumlah angka nolnya.

Kelemahan tersebut berakar dari belum terbangunnya basis produksi berproduktivitas tinggi, minimnya penguasaan teknologi canggih, serta terbatasnya keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global. 

Sebagian besar komoditas ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah (raw materials).

Akibatnya, permintaan global terhadap rupiah sangat rendah karena negara lain belum memiliki ketergantungan transaksi yang mengharuskan mereka memegang mata uang rupiah.

Selama Indonesia masih bergantung pada luar negeri untuk kebutuhan mesin, modal, dan teknologi, daya tawar rupiah di tingkat ekonomi global akan tetap terbatas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
banyaknya angka nol rupiah ekonomi ferry irwandi