RADARTUBAN - Bekerja keras selama belasan hingga puluhan tahun belum tentu membuat seseorang mencapai kebebasan finansial.
Menurut pebisnis sekaligus konten kreator Timothy Ronald, kondisi tersebut berkaitan dengan jenis pekerjaan serta kepemilikan aset yang dibangun seseorang.
Pandangan itu disampaikan Timothy Ronald melalui akun YouTube pribadinya.
Dia menilai pasar tidak memberikan penghargaan berdasarkan seberapa besar seseorang merasa lelah atau bekerja keras, melainkan berdasarkan nilai yang dihasilkan serta aset yang dimiliki.
Baca Juga: Bukan Semata Tak Bisa Atur Uang, Ini Alasan Tekanan Ekonomi Bikin Keputusan Finansial Jadi Berisiko
"Aset itu adalah pekerjaan yang punya ingatan," ujar Timothy Ronald.
Menurut dia, pekerjaan yang tidak memiliki "ingatan" membuat seseorang harus kembali menukarkan tenaga dan waktunya setiap hari untuk mendapatkan penghasilan.
Kondisi tersebut dapat membuat keuangan menjadi rentan ketika seseorang berhenti bekerja.
Sebaliknya, aset seperti sistem bisnis, perangkat lunak, kekayaan intelektual, hingga saham dapat membuat hasil kerja yang telah dilakukan sebelumnya terus menghasilkan nilai.
Dengan begitu, seseorang tidak sepenuhnya bergantung pada waktu dan tenaga fisiknya untuk memperoleh penghasilan.
Ownership Jadi Faktor Penting Membangun Kekayaan
Timothy menjelaskan, kekayaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang sebagai pekerja, tetapi juga kepemilikan atas aset atau ekuitas sebuah perusahaan.
Dia memberikan gambaran, seorang karyawan bisa saja berkontribusi besar dalam meningkatkan nilai sebuah perusahaan.
Namun, bagian keuntungan dan peningkatan nilai perusahaan pada akhirnya juga berkaitan dengan kepemilikan saham.
Karena itu, menurut Timothy, membangun kepemilikan atas bisnis atau sistem dapat menjadi salah satu cara untuk mengakumulasi kekayaan dalam jangka panjang.
Selain kepemilikan, kelangkaan keterampilan juga dinilai berpengaruh terhadap nilai seseorang di pasar.
Pekerjaan yang dapat dilakukan oleh banyak orang cenderung memiliki batas pendapatan yang lebih terbatas.
Sebaliknya, keterampilan spesifik yang hanya dikuasai oleh sedikit orang dapat meningkatkan daya tawar seseorang. Semakin sulit sebuah kemampuan digantikan, semakin besar pula nilai yang dapat ditawarkan di pasar.
Kekayaan sebagai Bentuk Ketahanan Menghadapi Krisis
Timothy juga memandang kekayaan dari sisi kemampuan seseorang bertahan ketika menghadapi krisis.
Menurut dia, kebalikan dari kaya bukan hanya kondisi miskin, tetapi juga keadaan rapuh atau fragile.
Dalam kondisi rapuh, satu persoalan ekonomi dapat memberikan dampak besar terhadap seluruh kehidupan seseorang.
Sebaliknya, kepemilikan modal dan investasi dapat memberikan ruang untuk menghadapi tekanan sekaligus mengambil keputusan dengan lebih fleksibel.
Modal yang cukup juga memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk menunggu peluang tanpa harus selalu menerima setiap pekerjaan demi memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Karena itu, Timothy mengimbau masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap penghasilan.
Bukan hanya menukarkan waktu dengan uang, tetapi juga mengalokasikan tenaga dan sumber daya untuk membangun aset yang berpotensi memberikan hasil finansial dalam jangka panjang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari