Harga Bitcoin Sulit Ditebak, Timothy Ronald Ingatkan Investor Pegang Tesis dan Pahami Kondisi Pasar

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 15:12 WIB
Investasi Bitcoin tak butuh ramalan cenayang, cukup disiplin dengan strategi jangka panjang. (RADARTUBAN/AI)
Investasi Bitcoin tak butuh ramalan cenayang, cukup disiplin dengan strategi jangka panjang. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Pergerakan harga Bitcoin yang dinamis kerap membuat investor, terutama pemula, berusaha menebak waktu terbaik untuk membeli atau menjual.

Namun, Timothy Ronald menilai investor tidak perlu terlalu fokus memprediksi pergerakan harga dalam jangka pendek.

Hal tersebut disampaikan Timothy Ronald dalam podcast Borong Bitcoin Episode 41 di kanal pribadinya.

Dia menjelaskan bahwa investor sebaiknya memahami karakteristik aset dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan, bukan sekadar berusaha menebak harga yang akan terjadi.

“Lu gak perlu sok-sokan ibaratnya jadi cenayang untuk tahu besok itu harga ke mana,” ujar Timothy Ronald.

Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini Merosot Tajam Imbas Penguatan Dolar AS

Menurut Timothy, memahami siapa saja yang sedang melakukan transaksi di pasar menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. 

Investor juga perlu melihat alasan di balik pergerakan harga agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan spekulasi jangka pendek.

Dia menjelaskan bahwa pergerakan Bitcoin dalam jangka panjang tidak hanya dipengaruhi aktivitas jual beli harian.

Adopsi oleh institusi besar menjadi salah satu faktor yang menurutnya perlu diperhatikan karena semakin banyak lembaga atau perusahaan yang menggunakan Bitcoin, semakin besar pula perkembangan ekosistem aset tersebut.

Sementara dalam jangka menengah, mulai dari bulanan hingga tahunan, kondisi makroekonomi turut memengaruhi pasar.

Faktor seperti likuiditas global, inflasi, kebijakan suku bunga, nilai tukar dolar, dan kebijakan bank sentral menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan investor.

Di sisi lain, Timothy mengingatkan bahwa Bitcoin memiliki volatilitas tinggi sehingga perubahan harga dapat terjadi secara signifikan.

Karena itu, investor perlu menyesuaikan jumlah dana yang ditempatkan dengan kemampuan finansial dan profil risikonya.

Untuk menghadapi perubahan harga, dia juga membahas strategi dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara bertahap dan konsisten.

Strategi tersebut dapat membantu investor menjalankan rencana investasi tanpa terlalu bergantung pada upaya menentukan satu titik harga tertentu.

Timothy juga menekankan pentingnya memiliki alasan atau tesis investasi yang jelas. Menurut dia, perubahan harga dalam jangka pendek tidak seharusnya langsung membuat investor mengubah dasar analisis yang telah dibuat.

“Jangan samain harga sama tesis. Ketika Bitcoin turun 20%, 30%, tesis lu langsung berubah. Itu namanya lu enggak punya tesis,” katanya.

Karena itu, investor perlu kembali melihat alasan awal ketika memilih suatu aset dan menyesuaikannya dengan perkembangan kondisi pasar.

Dengan memahami faktor yang memengaruhi aset serta memiliki rencana investasi yang jelas, keputusan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga dalam waktu singkat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
investor investasi Timothy Ronald bitcoin