RADARTUBAN - Koes Plus, grup musik legendaris asal Tuban belum menjadi entitas sejarah di Tuban.
‘’Di Tuban ini, Koes Plus serasa tidak istimewa,’’ ujar Yohanan Didik Yuwono, pendiri komunitas Koes Plus Tuban.
Didik sapaannya, mengatakan, sampai saat ini Koes Plus jarang menjadi pokok bahasan atau rujukan permusikan di Tuban.
Begitu juga riwayat grup musik ini, amat kering di kabupaten asal kelahirannya.
Menurut Didik, jika Koes Plus dianggap istimewa dan berharga bagi Tuban, seyogyanya pemerintah dan masyarakat Tuban memberikan atensi serius untuk grup musik legendaris asal Tuban ini.
Misalnya, intens membuat diskursus atau wacana tentang Koes Plus agar kelestarian musikalitas dan prinsip-prinsip bermusiknya terwariskan kepada generasi sekarang dan mendatang.
‘’Kalau hal demikian dinilai amat sulit, alangkah bagusnya jika di Tuban didirikan landmark Koes Plus. Misal, membuat patung besar, museum, atau taman yang representatif untuk mengenalkan Koes Plus kepada masyarakat luas. Wabil khusus Museum Koes Plus,’’ ujar alumni IKIP Semarang itu.
Pria yang juga seniman rupa ini mengungkapkan, pada 2013 silam komunitas penggemar Koes Plus telah merancang dibukanya museum Koes Plus.
Hanya saja, museum tersebut berskalanya kecil dan menjadi bagian dari Museum Kambang Putih di Jalan KH Mustain.
Meski grup musik legendaris asal Tuban ini dinilai masih abu-abu sampai sekarang, Didik masih eksis membumikan Koes Plus. Terutama kepada siswa-siswinya di sekolah.
Dia mengakui Koes Plus hanya di-uri-uri di tingkat komunitas saja.
Hal ini, kata Didik, tidak akan punya bergaining yang bagus tanpa keterlibatan publik secara masif.
‘’Soal eksistensi ini, merupakan PR kita bersama,’’ pungkasnya.
Soal redupnya eksistensi Koes Plus di Tuban, Didik memerkirakan beberapa sebab.
Pertama, hadirnya musisi-musisi baru yang lebih membawa pengaruh. Koes Plus yang dianggap ‘’barang lama’’ seakan tidak relevan dengan perkembangan musik sekarang.
Padahal, hal tersebut tidak benar. Menurut Didik, selawas-lawas musik tetap bisa dijadikan rujukan.
Masalahnya adalah mampu atau tidaknya seseorang mengambil dan mengolahnya agar menemui titik relevanitas.
‘’Istilahnya, generasi musisi saat ini lupa kepada leluhurnya,’’ ujarnya.
Kedua, lanjut Didik, faktor yang menyebabkan Koes Plus kurang eksis adalah karena faktor ideologis.
Pendidik yang pertama kali bertugas di Situbondo ini mengungkapkan, glorifikasi satu keyakinan yang berkembang di Tuban ini menjadi sebab mengapa Koes Plus kurang perhatian di Tuban.
Menurut dia, selama ini Tuban dicengkram keislaman yang amat kuat. Tokoh-tokoh dengan agama ini muncul dan terpelihara dengan bagusnya. (*)
Editor : Dwi Setiyawan