RADARTUBAN-Koes Plus, grup musik legendaris asal Tuban diakui kehebatannya dalam bermusik di kancah nasional maupun internasional.
Bahkan, dunia permusikan menyetarakan Koes Plus dengan The Beatles, grup musik legendaris asal Inggris.
Yohanan Didik Yuwono, salah satu pendiri komunitas Koes Plus di Tuban mengatakan, daripada The Beatles, Koes Plus lebih unggul.
‘’Sebab Koes Plus bermain dan berkarya musik di semua genre,’’ ujarnya.
Lima genre tersebut, pop, jazz, melayu, gambus, tembang dolanan, hingga rock.
‘’Ini jarang ditemukan di grup musik lain,’’ ujarnya.
Bahkan, hingga hari ini grup musik yang bermain multigenre jumlahnya bisa dihitung jari.
Didik menilai, keistimewaan Koes Plus tidak hanya pada musik.
‘’Di luar musik, Koes Plus juga memiliki keistimewaan. Misalnya, soal politik dan pertahanan negara,’’ ungkap seniman seni rupa itu.
Didik mengatakan, dalam sejarahnya Koes Plus pernah menjadi agen intelijen Indonesia di Malaysia.
Itu terjadi ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Negeri Jiran pada kurun 1961—1964.
Saat itu, Koes Plus masih bernama Koes Bersaudara.
Didik mengungkapkan, waktu itu Koes Bersaudara berangkat ke negeri seberang atas instruksi Soekarno.
Di sana, grup legendaris ini diplot sebagai provokator berbekal popularitas yang melekat padanya.
‘’Namun, aksi intelijen tersebut terendus. Koes Bersaudara nyawanya terancam. Menjadi buron intelijen dunia, sehingga pulang lagi ke Indonesia,’’ tuturnya.
Begitu sampai di Indonesia, demi menjaga keselamatan Koes Bersaudara, Presiden
Soekarno memerintahkan personel-personel Koes Plus masuk penjara.
Menurut dia, jeruji besi adalah tempat paling aman saat itu.
Seniman sekaligus pendidik ini mengisahkan, waktu itu Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara Glodok.
Agar seluruh aksi intelijen ini tidak diketahui publik secara luas, presiden sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia membuatkan kasus untuk Koes Plus agar masuk akal dipenjarakan.
‘’Waktu itu rekayasanya musik Koes Plus terlalu berbau barat (Amerika—Eropa, Red). Pas dengan kondisi politis Soekarno yang antibarat,’’ jelas dia.
Alhasil, siasat ini berhasil dilancarkan.
Waktu itu, yang diketahui publik adalah Koes Plus dikerangkeng karena musiknya beraroma barat.
Sedangkan yang terjadi sebetulnya adalah Koes Plus dipenjara demi keamanan dari kejaran buron karena aksi mereka sebagai intelijen di Malaysia.
‘’Hal–hal demikian ini harus diketahui publik. Menjadi teladan generasi musisi mendatang,’’ tandasnya. (*)
Editor : Dwi Setiyawan