RADARTUBAN-Kapan grup musik Legendaris Koes Plus terbentuk?
Dikutip dari buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie di elibrary.unikom.ac.id, Koes Plus dibentuk pada 1968.
Dalam buku tersebut dikupas, Koes Plus terbentuk setelah grup musik yang dibentuk sebelumnya, Koes Bersaudara cukup lama vakum setelah Nomo Koeswoyo, pemain drum mengundurkan diri.
Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, dan Yok Koeswoyo sepakat melanjutkan
karier musiknya.
Untuk mengisi kekosongan posisi pemain drum, muncul tiga pilihan musisi, yakni Fuad Hasan (drummer God Bless), Eddy Tulis, dan Murry drumme Patas).
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Murry akhirnya dipilih menggantikan Nomo Koeswoyo.
Karena satu personel grup musik ini bukan putra Koeswoyo, nama Koes Bersaudara berubah nama menjadi Koes Plus.
Setelah terbentuk, Koes Plus melahirkan album piringan hitam pertama Koes Plus 1.
Lagu pada album perdana tersebut, Sayang, Derita, Kembali ke Jakarta, Dheg Dheg Plas, dan Kelelawar.
Karya pertama Koes Plus ini tidak laku di pasaran hingga akhir 1970.
Ketika tampil pada Jambore Grup Musik IMK di Istora Senayan, Jakarta, Koes Plus memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawakan lagu-lagu pada album Volume I yang sebelumnya tidak laku dipasaran.
Di luar dugaan, setelah Jambore Grup Musik IMK, album perdana Koes Plus tersebut laku di pasaran.
Lagu-lagu tersebut begitu populer hingga diputar di radio-radio swasta dan stasiun televisi TVRI.
Sukses dengan album pertama, Koes Plus kembali menelurkan album Koes Plus II.
Album ini berisi lagu, Kisah Sedih di Hari Minggu, Cintamu Telah Berlalu, Pencari Hatiku, Angin, Hujan dan Sweet Memories, Bunga di Tepi Jalan, dan Malam Ini yang
digarap secara akustik.
Pada album Koes Plus III, lagu-lagunya menggunakan lirik bahasa Inggris.
Salah satunya berjudul Why Do You Love Me.
Di tengah kepopuleran grup musik yang menyanyikan lagu berbahasa asing pada 1970-an, Koes Plus tak mau ketinggalan dengan menciptakan sebuah lagu berjudul Another Song For You.
Tidak hanya menyanyikan lagu asing, Koes Plus juga menciptakan lagu dengan aransemen musik lokal pada lagu berjudul Kroncong Pertemuan dan musik etnis topeng Bekasi pada lagu Mari-Mari.
Begitu populernya Koes Plus, pada buku 100 Tahun Musik Indonesia dikupas kontrak rekaman Koes Plus dengan Dimita Moulding Ltd milik Dick Tamimi.
Kontrak tersebut mencapai delapan 8 album.
Pada awal 1973, Remaco milik Eugene Timothy, perusahaan rekaman menawari Tonny dengan menggunakan teknologi modern 4 track yang sebelumnya hanya 2 track.
Kesuksesan Koes Plus dalam industri rekaman musik di Indonesia dapat dijadikan inspirasi bagi kelompok-kelompok band lainnya, seperti Panbers, Favourites Grup, D’lloyd, C’Blues, The Mercy’s, The Gembell’s, Golden Wing, Rasel, Freedom Of Rhapsodia dan kelompok musik lainnya. (*)
Editor : Dwi Setiyawan