Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Koes Bersaudara, Cikal Bakal Koes Plus Dipengaruhi Genre Musik Rolling Stone, The Beatles, Everly Brothers

Dwi Setiyawan • Senin, 5 Agustus 2024 | 19:35 WIB
Koes Bersaudara di era 1960 an, dari kiri ke kanan, Tonny koeswoyo, Yok koeswoyo, Yon koeswoyo, Nomo koeswoyo.
Koes Bersaudara di era 1960 an, dari kiri ke kanan, Tonny koeswoyo, Yok koeswoyo, Yon koeswoyo, Nomo koeswoyo.

RADARTUBAN-Genre musik Koes Bersaudara, cikal bakal grup musik Koes Plus dipengaruhi situasi politik, sosial, dan ekonomi pada era 1960 hingga 1970-an.

Selain Koes Bersaudara, di era tersebut grup musik lain yang terpengaruh adalah Los Suita, Eka Djaya Combo, dan Dara Puspita.

Almarhum Yon Koeswoyo mengakui di era 1960-an, genre lagu Koes Bersaudara dipengaruhi The Beatles.

‘’Kita Beatles-Beatles-an lah. Lagu banyak rock. Tampil di night club Kemayoran. Masuk koran Keng Po,’’ ujarnya.

Pernyataan Yon Koeswoyo tersebut diungkapkan di YouTube @demaschchannel63 yang tayang pada 4 Maret 2023.

Gambaran permusikan tanah air pada 1968-1978 diteliti akademisi Universitas Pasundan (Unpas).

Dalam laman unpas.ac.id, diuraikan pada dekade 1960-an pengaruh musik rock ’n roll di tanah air begitu kuat.

Hal tersebut pengaruh masuknya grup-grup musik asal Inggris seperti Rolling Stone, The Beatles, dan lainnya.

Di masa itu, piringan hitam dan radio banyak memperdengarkan lagu-lagu Everly Brothers atau irama rock ’n roll The Beatles.

Hingga menjelang pertengahan dekade 1960-an, Koes Bersaudara dan grup musik lain menciptakan dan menyanyikan lagu sendiri yang terpengaruh lagu asing yang sering mereka dengarkan.

Pertunjukan musik juga sering digelar dengan jumlah penonton terbatas.

Dalam penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa pada awalnya situasi dan kondisi Indonesia kondusif bagi perkembangan musik rock.

Kondisi berubah pada masa Demokrasi Terpimpin.

‘’Nada keberatan terhadap musik rock ini dilihat secara politis melalui kepentingan nasionalisme; musik rock dikatakan sebagai bagian dari imperialisme kebudayaan,’’ tulis penelitian tersebut.

Itu seiring pernyataan imperialisme kebudayaan yang dikemukakan Presiden Soekarno dalam pidato Manipol Usdek pada 17 Agustus 1959.

Pada September 1959, Dewan Pertimbangan Agung memutuskan Garis-garis Besar Haluan Negara.

Permusuhan terhadap musik rock di Indonesia yang dimanipulasi kepentingan PKI muncul melalui Lembaga Kesenian Rakyat.

Baru pada 1963, pemerintah mengeluarkan Penetapan Presiden PP No. 11/1963 tentang larangan musik ngak ngik ngok.

Musik rock menghadapi persoalan nyata akibat dikeluarkannya penetapan presiden tersebut.

Musik rock diberangus dan dianggap musik yang merusak budaya bangsa.

Konsekuensi dari penetapan presiden, piringan-piringan hitam milik grup musik The Beatles, The Rolling Stone, The Shadows, dan lainnya dimusnahkan massal.

Diberlakukan pula larangan impor rekaman musik dari barat.

Siaran radio yang menyiarkan musik-musik barat juga dilarang, termasuk RRI.

Pemuda berambut gondrong yang berpakaian dengan memakai model barat tidak luput menjadi korban razia aparat berwenang.

Koes Bersaudara yang mengambil beat keras dalam bermusik ikut terkena paranoisme Orde Lama.

Bahkan, personel Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara.

Tidak hanya Koes bersaudara, grup musik lainnya juga mendapat peringatan untuk tidak membawakan lagu-lagu yang berirama rock ’n roll. Salah satunya Los Suita.

Kejaksaan Tinggi Jakarta mengeluarkan peringatan bahwa grup musik ini akan dibubarkan jika masih menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi Elvis Presley.

Setelah peristiwa G-30S, keadaan berubah. Perubahan politik pada 1965 memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan musik populer, khususnya musik rock.

Musik populer dengan unsur musik rock di dalamnya mendapatkan kebebasan dan tidak lagi dibelenggu.

Kebijakan menentang impor rekaman musik barat juga dihapus.

Setelah itu, piringan-piringan hitam pemusik barat dari segala jenis aliran musik dapat diperoleh di pasaran. (*)

Editor : Dwi Setiyawan
#cikal bakal #koes plus #Genre Musik #koes bersaudara