RADARTUBAN-Bukan Koes Plus kalau tidak mampu mengekspresikan hal-hal sederhana dalam kehidupan menjadi sebuah lagu.
Seperti lagu berjudul Bujangan yang diciptakan Murry, drummer Koes Plus dan dirilis pada 1974.
Kesederhanaan lirik lagu Koes Plus ini mudah dipahami dan makna yang terkandung begitu mendalam.
Dikutip dari analisis program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogjakarta, berikut lirik dan gambaran lagu berjudul Bujangan:
Begini nasib jadi bujangan
Ke mana-mana asalkan suka
Tiada orang yang melarang
Cerita atau kisah dalam lirik lagu Bujangan ini tidak mengesankan “tidak laku” dalam mendapatkan jodoh.
Penggalan lirik lagu ini menyatakan sebaliknya.
Ada unsur pembenar, bukan alasan atas status bujangan.
‘’Walau terkesan memaksa, tapi menyenangkan untuk didengarkan,’’ tulis analisa tersebut yang dimuat di hamsmars.wordpress.com.
Stigma negatif yang pada umumnya diakui, digusur “paksa” dengan penggalan tiada orang yang melarang yang menggambarkan kebebasan bagi bujangan.
Hal ini kontras dengan status berjodoh yang sudah memiliki keluarga yang menuntun pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Banyaknya kebutuhan tersebut menguras segala tenaga, pikiran, dan biaya demi keberlangsungan bahtera rumah tangga.
Dengan bujangan, semua yang dinginkan bisa diraih, ke mana pun perginya tak akan ada yang menanyai.
Seberapa larut pulangnya tidak ada yang menghiraukan.
Karena itulah muncul penggalan ke mana-mana asalkan suka.
Hidup seakan milik pribadi, oleh pribadi, dan untuk pribadi, si bujangan.
Bujangan diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab sepenuhnya atas diri sendiri.
Hati senang walaupun tak punya uang oo….
Hati senang walaupun tak punya uang oo….
Uang adalah modal untuk melakukan segalanya.
Uang adalah bekal untuk membeli apa saja.
Uang adalah jaminan keamanan dan kenyamanan selama bepergian ke mana saja.
Karena itu, uang menjadi tolok ukur bahagia tidaknya seseorang.
Bila seseorang memiliki uang, dia akan bahagia.
Begitu juga bila seseorang tidak memiliki uang, dia akan berduka lara.
Tapi lagu ini mengekspresikan hal lain.
Bahwa hati senang tidak harus memiliki uang, hati senang walaupun tak punya uang.
Hal ini sebenarnya juga menguatkan penggalan sebelumnya.
Pembenaran status bujangan sangat didukung penggalan ini.
Dengan masih menjadi bujangan, ketidakadaan uang masih bisa dirasa nyaman.
Sungguh berbeda ketika sudah berkeluarga, misalkan pada suatu saat tidak ada uang, padahal mendesak dibutuhkan untuk membeli susu anaknya, mengobati istri yang terkena asma, membayar SPP yang menunggak tiga bulan, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang hanya bisa diamankan dengan uang.
Sungguh tidak mungkin ketika tidak membujang, tapi tidak memiliki uang.
Untuk lebih menegaskan tingkat kesungguhannya atau pengedepanan, muncullah majas repetisi atau perulangan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
Pengulangan tersebut adalah penggalan hati senang walaupun tak punya uang.
Pengulangan ini juga bermaksud penegasan dan pengedepanan bagian.
Memang seluruh penggal lagu penting, hanya saja penggalan ini dirasa lebih penting dibandingkan yang lain sehingga diulangi sampai dua kali.
Selain itu, nada dan musik lagu ini memancarkan semangat yang amat sangat.
Apalagi pemilihan kata yang selalu bersifat terbuka bunyinya, menimbulkan asonansi yang kuat, yang bisa menguatkan makna kegembiraannya.
Musik ceria terdengar karena kecepatan yang tinggi dan nada yang mudah dilafalkan.
Sehingga walau memiliki kemampuan menyanyikan sebuah lagu sedikit, tetap saja menimbulkan kesa semangat menggebu yang tidak terbendung.
Apa susahnya hidup bujangan
Setiap hari bernyanyi
Tak pernah bersedih hati
Penggalan lirik lagu ini menyatakan bahwa bujangan tidak ada salahnya sama sekali.
Hal ini ditunjukkan pada penggalan yang berupa pertanyaan yang memiliki majas retoris, apa susahnya hidup bujangan.
Penggalan ini mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
Memang pernyataan apa salahnya menjadi bujangan sudah dinyatakan oleh penggalan-penggalan lagu sebelumnya.
Hanya saja penggalan ini menawarkan alternatif kegiatan yang bisa dilakukan oleh bujangan dengan suka ria, yaitu setiap hari bernyanyi.
Bernyanyi merupakan aktivitas hiburan yang sangat menyenangkan.
Bahkan, tidak hanya mengisi waktu luang, tetapi bisa memberikan penghasilan untuk menyokong kehidupan.
Sekali lagi tentang larangan untuk tak pernah bersedih hati.
Menjadi hal yang menarik ketika ini diulang untuk kesekian kalinya.
Berarti ada penegasan yang lebih atau pengedepanan dibandingkan dengan bagian yang lainnya.
Bagian ini merupakan konklusi atas berbagai pernyataan tentang apa susahnya jadi bujangan dan banyak alternatif penghibur walau menjadi bujangan.
Stigma negatif tentang bujangan digantikan bahwa bujangan juga menyenangkan.
Perasaan yang biasanya gundah gulana karena risau akan status dan tuntutan sosial menjadi pernyataan usang, karena yang benar adalah setiap hari bernyanyi, tak pernah bersedih hati. (*)
Editor : Dwi Setiyawan