RADARTUBAN - Penyanyi tembang Asmalibrasi sekaligus mantan vokalis band Soegi Bornean, Fanny Soegi kembali ramai dibahas warganet.
Itu setelah penyanyi berdarah Jawa - Kalimatna itu menuliskan utas tentang sisi buruk mantan bandnya di media sosial X atau Twitter.
Dalam tulisannya tersebut Fanny curhat tentang berbagai masalah dan pengalaman yang tidak mengenakkan ketika menjadi vokalis Soegi Bornean.
Cuitannya pada tanggal Minggu (8/9) itu mengungkapkan permasalahan terkait pembagian royalti atas lagu Asmalibrasi yang sempat viral pada tahun 2020 silam.
“Bayangin aja, lagu Asma ini yang kalian denger di mana2, penciptanya sampai minjem uang untuk bayar sekolah anaknya. Nominal dari royalti lagu ini nggak main-main, setengah milyar lebih ada, tapi justru orang-orang yang nggak punya hak dapat paling banyak dan nggak transparan” tulis Fanny.
Pada tulisannya, Fanny mengeluhkan pembagian royalti atas lagu Asmalibrasi yang dia ciptakan bersama Dhimas Tirta Franata. Fanny mengungkapkan bahwa royalti dari lagu tersebut mendaptakan royalti yang sangat banyak berkisar setengah miliar.
Namun sang pencipta tidak mendaptakan hak dari lagu tersebut. Bahkan sampai terpaksa berhutang untuk sekadar membiayai sekolah anak-anaknya.
Fanny menggaris bawahi bukan soal nominal dari royalti yang menjadi inti dari permasalahan, tetapi perihal nurani dan keserakahan yang ditudingkan kepada band tersebut.
Fanny juga mengaku bahwa dia sempat diancam ketika berani speak up terkait permasalahan ini. Dia mengaku diancam bahwa dibelakang mereka terdapat bekingan orang-orang penting.
“Aku masih inget banget ketika aku mau bersuara tentang ini, ada cletukan: Fanny lupa toh kalau di belakangku ini orang2 penting? Iya aku tau kalian jurnalis, meskipun aku sendirian, aku nggak takut, aku masih berpegang teguh rasa adil,” ujarnya.
Kejadian tidak mengenakan juga diugkapan Fanny dalam postingan tersebut, ketika Fanny dipaksa untuk tetap manggung meskipun masih dalam masa berduka atas meninggalnya sang ibu.
Bahkan Fanny juga sempat berfikiran untuk mengakhiri hidupnya karena merasa sendiri tanpa adanya sosok ibu dan bapak. Dan akibat dari perlakuan dari anggota band tersebut. Fanny menyebut mereka sebagai laki-laki patriarki, korup dan betah isin.
”Aku masih inget banget rasanya 7 harian Ibuku, aku diharuskan tetap manggung dengan kata2 menyakitkan,'' tulis dia.
“Rasanya sakit hati banget dan harus kehilangan Ibuk di waktu yang bersamaan. Pernah ada di satu titik aku mau mengakhiri hidup karena betul2 sendirian, tanpa Bapak & Ibuk. Perlakuan kalian nggak akan aku lupakan se-umur hidup. Kalian laki2 patriarki, korup, betah isin,'' lanjut Fanny.
Permasalahan yang Fanny hadapi dengan mantan bandnya tersebut tidak hanya sampai situ saja. Ketika Fanny hendak keluar dari band tersebut, Fanny harus dihadapkan dengan permasalahan HAKI (hak kekayaan intelektual), ketika ingin bersolo karier dengan menggunakan nama “Soegi” Fanny harus membayar royalti atas namanya sendiri.
“Aku masih inget banget ketika aku mau keluar dari band itu dan dihadapkan orang-orang HAKI, aku diharuskan membayar namaku sendiri yakni Soegi, kalau aku keluar dengan entitas yang baru. Ada rekamannya lagi," tulis dia.
Nama band Soegi Bornean berasal dari dua kata Soegi dan Bornean, Soegi diambil dari nama belakang Fanny Soegiarto sedangakan Boernan melambangkan asal kampung halaman Fanny yaitu Kalimantan.
Diakhir tulisanya Fanny berterima kasih kepada pengikutnya di akun X-nya. Fanny mengungkapakan merasa lega karena telah mengungkapkan hal ini yang sudah dia pendam sejak lama. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama