RADARTUBAN - Awal tahun 2025 warganet dihebohkan dengan video pernikahan di Banyuwangi dengan konsep tahun 1970an yang beredar di media sosial. Pernikahan tersebut terlihat sangat sederhana.
Hanya dengan dekorasi dari anyaman bambu, dihiasi kain batik dan janur-janur yang menjuntai membuat video yang diunggah akun Instagram @zahro_89 pada Sabtu (4/1) viral.
Hingga saat ini, video tersebut sudah ditonton sebanyak 5,1 juta, mendapat like 132 ribu, komentar 3.515, dan dibagikan sebanyak 12,8 ribu. Netizen berbondong-bondong mengenang konsep pernikahan unik itu.
"Masyaallah, sampai sedetail itu, sendal, songkok, pernak-perniknya semua tempo dulu," komen akun @ nin*gustin*3.
"Ini sih keren, jadi ingat zaman masih kecil dulu kalau ada yang habis nikahan kayak gini mesti rebutan buah yang ada di sebelah pengantin itu," tulis akun @wid*_o*_lei.
Sebelum memasuki tempat resepsi, dua mempelai yakni Suluh Jalu Pamungkas, 26, dan Ami Pratiwi, 26, minum dari kendi oleh ibu Jalu yang bernama Siyami pada Sabtu (4/1).
Jalu yang mengenakan batik hijau dan songkok tempo dulu yang sudah usang dimakan kenangan meneguk air kendi sebanyak tiga kali. Begitu juga dengan Ami yang mengenakan kebaya hitam sederhana khas tahun 70-an.
Mereka berdua dituntun bapak Jalu bernama Ismadi dan sang ibu menuju pelaminan dari anyaman bambu, berhias kain batik dan bunga-bunga dari janur kuning yang menjuntai. Di kanan-kiri kursi pengantin, ada dua kembang mayang berhias buah yang gagah berdiri.
Sedangkan di kanan pelaminan, ada meja yang ditempati barang-barang antik khas tempo dulu seperti timbangan, dan alat-alat dari tembaga.
"Untuk keperluan dekorasi seperti janur, bambu, dan buah-buahan itu cari di sekitar rumah. Konsepnya agar ramah lingkungan. Kalau peralatan antik itu dari kolektor barang-barang antik," terang Jalu saat diwawancara pada Senin (6/1).
Jalu mengaku, ide pernikahannya itu berawal dari kenangan masa kecil ketika menghadiri pernikahan.
"Dulu waktu saya masih TK, sering diajak orang tua menghadiri acara pernikahan. Saya ingat konsepan acara pernikahan tempo dulu itu seperti apa, meskipun hanya sebatas ingatan yang tidak begitu jelas. Jadi, untuk konsepan era 70-an itu memang keinginan saya sendiri dan dibantu orang tua seperti apa jelasnya konsep (pernikahan) 70-an," paparnya.
Laki-laki yang bekerja sebagai tour guide tersebut juga ingin menginspirasi kaum muda agar tidak perlu gengsi ketika menikah dengan sederhana.
"Saya ingin membuktikan bahwa menikah itu tidak perlu mewah dan tidak perlu terlihat megah, yang penting sah," ujar laki-laki yang hobi mancing itu.
Hiburan di pernikahan Jalu dimeriahkan oleh musik tradisional khas setempat. Ada gong, calung, suling dan lain-lain. Pemainnya didominasi kalangan kaum bapak-bapak. Mereka terkumpul dalam kelompok musik Jaluwangi.
Sedangkan yang menyanyi lagu-lagu khas Jawa, didominasi sinden kaum ibu-ibu. Tamu undangan yang hadir dengan kostum kebaya tempo dulu menikmati suguhan pertunjukkan pernikahan Jalu dengan antusias.
Tidak hanya dekorasi, Jalu juga menyuguhkan konsep souvenir yang mendukung sustainable living. Jika biasanya pernikahan identik dengan souvenir barang, pernikahan Jalu berbeda, dia menyediakan souvenir sayur-mayur.
Tiap tamu undangan sebanyak 500 orang, masing-masing berhak mengambil tiga jenis sayur untuk dibawa pulang.
"Isi souvenirnya sayur-sayuran, dan ambil sendiri. Ada wortel, pakcoy, sayur bayam, banyak wes pokoknya," ungkap Jalu.
Uniknya lagi, di pernikahan Jalu tidak ada konsep prasmanan. Setiap meja diberi nomor dan daftar menu seperti di rumah makan. Ada sinoman yang akan mencatat pesanan tamu undangan dan mengantarnya jika sudah siap.
Varian makanannya pun beragam. Ada sate kambing, sate ayam, gule, ayam pedas, ikan laut asam manis, sayur lodeh rebung, bakso, dan soto. Sedangkan menu minumannya terdiri dari es temu lawak, es teh, teh hangat, dan kopi.
"Menu makanan tidak dibuat seperti era 70-an. Takutnya tamu undangan tidak suka, karena yang saya undang full teman-teman saya yang umurnya sekitaran 30 ke bawah," ucap Jalu.
Sedangkan untuk makanan ringan seperti rengginang, bolu, kembang goyang dan lain-lain diletakkan dalam toples kaca khas tempo dulu yang tutupnya diberi kertas klobot.
"Total biaya semuanya 25 juta dengan jumlah tamu undangan 500," pungkas Jalu.
Konsep pernikahan Jalu yang ramah lingkungan dan sederhana mungkin bisa menjadi inspirasi pernikahan yang lebih mencintai bumi. Apakah kamu tertarik menggunakan konsep pernikahan era 70-an seperti Jalu? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni