RADARTUBAN- Film A Business Proposal versi Indonesia, yang tayang perdana pada 6 Februari 2025, menghadapi kenyataan pahit di industri film Tanah Air.
Film ini hanya mampu menarik 6.900 penonton pada hari pertama penayangannya, angka yang sangat kecil dibandingkan film lain yang dirilis pada periode yang sama, seperti Petaka Gunung Gede yang berhasil meraih 148.900 penonton di hari pertama.
Lebih buruk lagi, film ini mendapatkan rating rendah di IMDb, hanya 1/10, yang semakin mencoreng reputasinya. Berikut fakta-fakta mengenai penyebab kegagalan film ini.
1. Kontroversi Pernyataan Abidzar Al Ghifari
Salah satu penyebab utama rendahnya minat penonton adalah pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Abidzar Al Ghifari, salah satu pemeran utama film ini.
Sebelum penayangan, Abidzar mengungkapkan bahwa ia tidak menonton versi asli drama Korea A Business Proposal.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil agar ia bisa membangun interpretasi karakter yang orisinal.
Namun, pernyataan ini justru memicu kemarahan penggemar drama Korea asli, yang menganggapnya sebagai bentuk tidak menghormati materi sumber.
Protes keras pun muncul di media sosial, dengan banyak yang menyerukan boikot terhadap film ini.
Meskipun Abidzar dan rumah produksi Falcon Pictures telah meminta maaf, dampak kontroversi tersebut tetap terasa pada performa film di box office.
Dalam unggahan media sosialnya, Abidzar menulis:
"Saya memohon maaf untuk semua yang telah tersakiti atas sikap, perbuatan, dan ucapan saya yang salah. Terima kasih buat kalian semua, sudah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Hal ini menjadi pembelajaran yang besar untuk saya dalam berproses menjadi seseorang yang dewasa dan bijaksana."
2. Jumlah Penonton yang Rendah
Pada hari pertama penayangan, A Business Proposal hanya berhasil menarik 6.900 penonton, dengan tingkat okupansi sebesar 3,43% dari total 1.270 pertunjukan.
Sebagai perbandingan, Petaka Gunung Gede berhasil menarik 148.900 penonton dengan tingkat okupansi 43,95% dari 2.271 pertunjukan.
Perbedaan angka yang mencolok ini menunjukkan kegagalan film untuk menarik minat publik meskipun memiliki jadwal tayang yang cukup banyak.
3. Kritik Pedas dari Penonton
Selain rendahnya jumlah penonton, film ini juga menerima kritik pedas dari penonton yang telah menyaksikannya. Beberapa kritik utama yang dilontarkan mencakup:
Akting yang dinilai kurang natural.
Dialog yang terasa kaku dan tidak mengalir.
Sinematografi yang dianggap tidak sebanding dengan versi asli drama Korea-nya.
4. Rating IMDb Hanya 1/10
Sebagai salah satu indikator kualitas film, rating IMDb A Business Proposal yang hanya 1/10 menjadi pukulan telak bagi film ini. Respons negatif ini semakin mengukuhkan citra buruk film tersebut di mata publik.
Pihak Falcon Pictures menyampaikan permintaan maaf atas hasil yang mengecewakan ini dan berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan di proyek mendatang.
Mereka berharap dapat mengambil pelajaran dari kasus ini untuk menghasilkan karya yang lebih baik di masa depan.
Kegagalan A Business Proposal versi Indonesia menjadi pelajaran penting bagi sineas lokal. Penggemar karya adaptasi mengharapkan kualitas yang sepadan atau bahkan lebih baik dari materi sumber.
Kontroversi sebelum penayangan dan eksekusi yang dinilai kurang maksimal menjadi faktor utama dibalik rendahnya antusiasme publik terhadap film ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni