RADARTUBAN - Seperti yang sudah diketahui Ubisoft baru saja mengumumkan game terbaru mereka, wajib download Assassin's Creed Shadows beberapa waktu lalu.
Menariknya meskipun baru diluncurkan, game ini telah dimainkan oleh dua juta orang di seluruh dunia.
Selain itu pada hari pertama peluncuran, Assassin's Creed Shadows mampu menembus angka penjualan sebanyak satu juta kopi.
Angka ini bahkan melampaui jumlah penjualan saat peluncuran game sebelumnya, Assassin’s Creed Origins dan Odyssey.
Tentu saja pencapaian ini menjadi angin segar bagi Ubisoft, apalagi setelah beberapa judul game mereka seperti Skull and Bones, Avatar: Frontiers of Pandora, dan Star Wars Outlaws jauh dari kata sukses.
Sebelum peluncuran Assassin's Creed Shadows, tersebar rumor bahwa pemilik saham terbesar Ubisoft, keluarga Guillemot tengah mencari investor untuk membentuk sebuah perusahaan baru yang akan mengelola franchise besar milik Ubisoft, termasuk Assassin’s Creed.
Kemungkinan keberhasilan Assassin's Creed Shadows tak lepas dari upaya Ubisoft untuk berupaya mempertahankan judul game ikoniknya tersebut jatuh ke tangan orang lain. Hanya saja masih terlalu awal untuk menilai seberapa sukses game ini dimasa depan.
Menarik untuk melihat seberapa sukses Assassin's Creed Shadows mengingat Ubisoft kembali merilis game ini di platform Steam pada hari pertama peluncuran, sesuatu yang jarang mereka lakukan akhir-akhir ini.
Kendati begitu, jumlah pemain bersamaan Assassin's Creed Shadows di Steam hanya berkisar diangka 60 ribu yang tergolong relatif rendah.
Hanya saja, rendahnya jumlah pemain di Steam bisa asumsikan karena banyak pemain PC terbiasa membeli game Ubisoft melalui Ubisoft Connect atau Epic Games Store.
Ubisoft Quebec sebagai pengembang Assassin's Creed Shadows dianggap sukses menghidupkan kembali mekanisme stealth dalam gameplay, sekaligus tetap mempertahankan elemen RPG dan sistem pertarungan yang lebih disempurnakan dari game pendahulunya.
Meskipun penggunaan dua karakter utama dirasa kurang maksimal tetapi berkat alur cerita yang menarik game ini menjadi terasa tidak terlalu panjang.
Terlepas dari kontroversi tentang agenda woke yang tersemat didalamnya, serta dianggap menghina tempat suci, setting waktu Jepang pada jaman Feodal berhasil dihadirkan Ubisoft dengan sangat memukau dan layak untuk dicoba oleh para pemain. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama