Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

In Memoriam: Titiek Puspa dan Lagu Gang Kelinci yang Sarat Makna Kehidupan, Begini Kisahnya

Bihan Mokodompit • Sabtu, 12 April 2025 | 16:00 WIB
Legendaris Titiek Puspa
Legendaris Titiek Puspa

RADARTUBAN - Lagu Gang Kelinci merupakan salah satu karya ikonik dari Titiek Puspa, seniman legendaris yang wafat pada Kamis, 10 April 2025, pukul 16.25 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh putri pertamanya, Petty Tunjungsari.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah wafat ibu kami, eyang buyut, mertua, ibu Titiek Puspa, Hj Titiek Puspa di usia 87 tahun hari ini, pukul 16.25 WIB di RS Medistra,” tulis Petty.

Semasa hidupnya, Titiek dikenal luas karena karya-karyanya yang turut mempromosikan keindahan budaya dan kawasan di Indonesia.

Salah satunya adalah lagu Gang Kelinci yang pertama kali dipopulerkan oleh Lilis Suryani pada 1963.

Di tahun 2024, lagu ini kembali dinyanyikan oleh Titiek Puspa sendiri dalam versi aransemen baru yang lebih segar.

Potongan lirik lagu tersebut berbunyi, “Jakarta kotaku indah dan megah, di situlah aku dilahirkan. Rumahku di salah satu gang, namanya Gang Kelinci.”

Lirik ini membawa pendengar pada gambaran kampung padat di jantung ibu kota, tepatnya di kawasan Jalan Kelinci, wilayah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Meski terdengar seperti fiktif, Gang Kelinci benar-benar ada di Jakarta. Wilayah ini mencakup enam ruas jalan yakni Jalan Kelinci Raya, Jalan Kelinci Dalam, serta Jalan Kelinci I hingga IV.

Di masa lampau, kawasan ini dikenal sebagai permukiman yang padat dan sederhana, sebagaimana digambarkan dalam lirik lagu tersebut.

Namun, saat ini, Gang Kelinci telah mengalami perubahan signifikan. Jalan-jalannya sudah diaspal dan lebih bersih.

Kawasan ini bahkan bisa dilalui mobil, tidak lagi hanya kendaraan roda dua seperti dahulu.

Meski modernisasi merambah, suasana khas Jakarta tempo dulu masih terasa, terutama dengan keberadaan pedagang kuliner seperti Bakmi Gang Kelinci dan Bakmi Aboen yang selalu ramai pengunjung.

“Kalau Lilis dulu tinggalnya di Jalan Kelinci IV. Makanya dia menyanyikan lagu Gang Kelinci, menggambarkan kehidupannya di sini dulu,” ungkap Heryawan, pemilik Bakmi Pangsit Ayam Soen Yoe.

 

Tujuh tahun terakhir, kawasan ini berubah dari gang sempit yang hanya bisa dilalui satu kendaraan menjadi jalan aspal yang rapi dan bersih.

Meski kini suasananya cenderung lebih sepi, terutama di luar jam sekolah, kehidupan warga tetap berjalan meskipun tidak seramai masa lalu.

Beberapa pedagang keliling masih sesekali terlihat melintas, mempertahankan denyut kehidupan di tengah kawasan yang semakin tertata.

Lagu Gang Kelinci bukan hanya nostalgia, tapi juga potret sosial Jakarta dari masa ke masa.

Karya Titiek Puspa ini merekam dengan jujur perubahan wajah ibu kota, dari masa lalu hingga kini, dan menjadi warisan budaya yang abadi dalam sejarah musik Indonesia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Lagu Gang Kelinci #Indonesia #fiktif #Jakarta Selatan #titiek puspa