RADARTUBAN - Pulau Jeju kembali menjadi perbincangan hangat dan masuk dalam daftar destinasi impian, khususnya bagi para remaja pecinta drama Korea.
Popularitasnya meningkat pesat setelah drama korea berjudul When Life Gives You Tangerines tayang dan menyedot perhatian penonton dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Drama ini menyajikan kisah hangat dan menyentuh tentang kehidupan yang dibalut dengan visual memukau dari berbagai sudut Jeju.
Dari rumah tradisional dengan batu-batu alam, hingga pantai sepi yang menenangkan.semuanya terekam dengan estetika yang sangat memanjakan mata.
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial, terutama di TikTok, di mana para pengguna membagikan reaksi, komentar, hingga video-video edit aesthetic bertema Jeju dan drama tersebut.
Banyak yang merasa terinspirasi dan mengaku mulai menabung demi bisa mengunjungi Jeju suatu hari nanti. Salah satu pengguna TikTok berkomentar,
“Menurutku setelah drakor When Life Gives You Tangerines tayang, Jeju jadi makin dikenal banyak orang. Biasanya ada yang nggak tertarik sama haenyeo, tapi sekarang banyak yang respect. Keren banget sih!” tulis salah satu pengguna TikTok @S
Pengguna lain pun ikut memuji karakter-karakter pria dari Jeju di drama tersebut,
“Jeju adalah tempat kelahiran cowo-cowo greenflag kayak Yang Gwansik, Cho Yongpil.” tambah akun @saaa
Ada pula yang mengungkapkan rasa kagumnya terhadap keindahan visual Jeju,
“Kenapa di setiap sudut Jeju selalu aesthetic. One day ke Jeju, aamiin ya Allah.” lanjut @destri silvia novalita
Bukan hanya keindahan alam yang menarik perhatian, namun juga nilai-nilai lokal yang ditampilkan, seperti kehidupan haenyeo, penyelam wanita tradisional Jeju yang kuat dan mandiri.
Sosok haenyeo dalam drama menggambarkan kearifan lokal yang mulai mendapatkan tempat di hati generasi muda.
Mereka tak lagi dipandang sebagai sekadar profesi kuno, tapi sebagai simbol kekuatan dan ketahanan perempuan.
Peningkatan minat ini juga mendorong para content creator dan travel blogger untuk membuat konten bertema Jeju vibes dengan nuansa tenang, alami, dan penuh rasa syukur.
Mulai dari gaya busana, makanan, hingga dekorasi kamar pun kini banyak yang terinspirasi dari estetika ala Jeju.
Jeju kini bukan sekadar tempat liburan, melainkan juga ruang untuk merenung, menyembuhkan luka, dan menemukan kembali makna hidup—hal-hal yang sangat dicari oleh generasi muda saat ini.
Dengan keindahan yang tulus dan cerita yang menyentuh, Pulau Jeju telah menjelma menjadi simbol healing dan impian remaja masa kini.
Bukan hanya destinasi, tapi sebuah harapan akan ketenangan dan kehidupan yang lebih pelan namun bermakna. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni