Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Salip Agak Laen, Jumbo Diprediksi Menjadi Film Terlaris Nomor Satu di Inonesia, Begini Alasannya

M. Afiqul Adib • Senin, 12 Mei 2025 | 14:48 WIB

 

Salah satu gambar yang dibagikan warganet dalam mempromosikan film animasi Jumbo.
Salah satu gambar yang dibagikan warganet dalam mempromosikan film animasi Jumbo.

RADARTUBAN - Film Indonesia belakangan ini seperti punya dua genre utama: horor dan horor lagi.

Sampai-sampai, tiap mau ke bioskop kita bingung, ini film horor baru atau sekuel dari horor minggu lalu. Tapi tiba-tiba datang satu film yang beda sendiri: Jumbo.

Bukan horor, bukan kisah hantu viral, tapi film animasi yang justru menggedor box office dan bikin banyak orang jatuh cinta.

Per 11 Mei 2025, “Jumbo” sudah ditonton lebih dari 9,1 juta penonton, resmi duduk di posisi kedua film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Tinggal selangkah lagi nggeser “KKN di Desa Penari” yang selama ini bertengger dengan 10 juta penonton lebih.

Bahkan, “Agak Laen” pun resmi dilompati. Padahal, ini film animasi, loh.

Bukan genre yang biasanya meledak-ledak di bioskop Indonesia.

Kok bisa?

Pertama-tama, ini bukan sekadar film anak-anak.

Kata-kata yang dilontarkan berkali-kali saat konferensi pers adalah: “Jumbo itu untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk anak-anak dalam diri kita.” Dan ternyata memang kena.

Film ini bukan cuma ditonton bocah-bocah SD yang datang rombongan naik angkot hasil iuran 2 bulan.

Tapi juga ditonton orang dewasa yang udah capek hidup dan pengin hiburan yang bikin hangat di dada.

Kedua, Jumbo ini punya yang namanya buzzer gratisan. Tapi bukan buzzer politik yang nyebelin itu.

Ini buzzer yang suka rela. Orang-orang yang nonton, suka banget, lalu merasa berkewajiban ngajak temannya buat ikut nonton.

Ada yang nulis panjang lebar di media sosial, ada yang bikin thread manis, ada juga yang bisik-bisik penuh semangat ke tetangganya: Bu, filmnya bagus banget loh, wajib nonton!

Tanpa dibayar, tanpa endorse, mereka nyebarin kabar baik tentang film ini. Dan ini bukan cuma berlaku buat penonton, tapi juga akun-akun review film sampai orang-orang dalam industri perfilman sendiri.

Mungkin karena mereka merasa: Akhirnya ada juga film keluarga yang bukan horor atau drama perselingkuhan.

Di tengah dunia yang penuh jumpscare, “Jumbo” hadir sebagai pelukan. Visualnya ciamik, ceritanya menyentuh, dan emosinya dapet.

Nggak heran kalau banyak yang sampai nonton dua kali, bahkan tiga kali. Ada yang ngajak pacar, orang tua, sampai rombongan satu RT.

Dan kalau tren ini lanjut, bukan nggak mungkin “Jumbo” bakal resmi jadi film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia.

Sebuah pencapaian yang bukan hanya soal angka, tapi juga harapan: bahwa film bagus akan selalu menemukan jalannya.

Bahkan tanpa adegan seram, tanpa keranda, dan tanpa setan di balik pohon pisang.

“Jumbo” mengajarkan satu hal: kebaikan yang tulus akan sampai ke hati banyak orang. Film yang dibuat dengan cinta dan dikerjakan serius, akan menemukan penontonnya—dan kadang, bikin sejarah.

Jadi, kalau kamu belum nonton, ya udah ayo nonton. Biar sekalian menjadi kontribusi buzzer yang positif. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Agak Laen #horor #sekuel #bioskop #kkn desa penari #jumbo #laris #film animasi