RADARTUBAN - Kohei Horikoshi, kreator sekaligus mangaka My Hero Academia, baru-baru ini mengungkap fakta menarik tentang akhir cerita manga populernya itu.
Dia mengatakan bahwa akhir kisah Deku yang diterbitkan ternyata berbeda dari konsep awal yang dia rancang. Pernyataan ini sontak jadi perbincangan hangat di kalangan penggemar.
Meskipun manga My Hero Academia telah resmi berakhir tahun lalu, Horikoshi masih menyimpan cerita di balik layar yang belum banyak diketahui.
Dalam versi manga yang diterbitkan, kisahnya melompat sepuluh tahun setelah perang besar melawan All For One dan Tomura Shigaraki.
Deku digambarkan kembali ke almamaternya, kali ini sebagai seorang guru dan yang menarik, tanpa lagi membawa kekuatan One For All.
Di akhir cerita, terlihat juga momen emosional ketika Bakugo dan mantan teman-teman sekelasnya dari Kelas 1-A berusaha mengumpulkan dana demi membelikan Deku sebuah power suit agar dia bisa kembali beraksi sebagai pahlawan.
Namun siapa sangka, versi ini ternyata bukan rencana asli sang mangaka.
Fakta ini terungkap dari komentar Horikoshi dalam sebuah pameran My Hero Academia yang tengah digelar di Jepang.
Ketika ditanya soal perbedaan antara narasi awal yang menyebut Deku akan menjadi pahlawan hebat dengan penutup cerita yang lebih menyiratkan bahwa "siapa pun bisa menjadi pahlawan", Horikoshi memberikan penjelasan mendalam.
"Awalnya, saya ingin menutup kisah ini dengan Deku yang menjadi guru dan berkata, 'Kamu bisa jadi pahlawan!'," jelas Horikoshi.
Namun, seiring perkembangan cerita dan karakter, dia menyadari bahwa My Hero Academia bukan lagi hanya tentang Deku atau kekuatan One For All.
"Serial ini mengalami perubahan arah dari rencana awal.
Setelah melihat bagaimana Deku bertumbuh dan menggunakan kekuatannya dengan percaya diri, saya menyadari bahwa cerita ini harus lebih dari sekadar tentang satu orang," tambahnya.
Horikoshi pun menyimpulkan bahwa makna sejati menjadi pahlawan bukanlah tentang kekuatan super, melainkan tentang mengulurkan tangan kepada orang lain.
Pandangan ini akhirnya dituangkan ke dalam monolog terakhir di chapter 430.
"Jadi, meskipun awalnya saya ingin Deku menyampaikan harapan pribadi untuk masa depan, versi akhirnya menjadi lebih kolektif dan kolaboratif. Itulah kenapa akhir ceritanya berubah," tegasnya.
Dengan pengungkapan ini, Horikoshi memberi penggemar pemahaman baru tentang filosofi yang mendasari akhir cerita My Hero Academia bukan soal kekuatan, tapi soal kepedulian dan solidaritas. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama