RADARTUBAN - Beberapa anime berhasil mempertahankan popularitas dan eksistensinya selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Alih-alih menuju akhir cerita, serial-serial ini justru terus bertambah panjang dan seakan tak pernah kehabisan cerita untuk disampaikan.
Didukung oleh rating tinggi, basis penggemar yang solid, serta keuntungan finansial yang terus mengalir, produksi anime-anime ini terus dilanjutkan tanpa henti.
Mengutip berbagai sumber, berikut adalah sembilan anime yang hingga kini belum menemui kata “tamat” dan masih tayang aktif:
1. Sazae-san
Tayang perdana pada 5 Oktober 1969, Sazae-san merupakan salah satu fenomena unik dalam industri hiburan Jepang.
Anime yang diadaptasi dari manga karya Machiko Hasegawa ini tercatat sebagai serial anime dengan jumlah episode terbanyak di dunia — lebih dari 7.000 episode dan masih terus berlanjut.
Tak hanya itu, Sazae-san juga menjadi program televisi dengan masa tayang terlama dalam sejarah, melampaui serial legendaris seperti The Simpsons yang telah mengudara selama 34 tahun, dan bahkan Doctor Who yang sudah tayang selama 60 tahun.
2. Crayon Shin-chan
Sejak pertama kali tayang pada tahun 1992, Crayon Shin-chan telah menjelma menjadi salah satu anime komedi paling ikonik sepanjang masa.
Serial ini menceritakan kehidupan sehari-hari Shinnosuke "Shin" Nohara, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun yang nakal, kocak, dan penuh kejutan.
Dengan lebih dari 1.267 episode dan masih bertambah, anime ini tetap digemari oleh berbagai kalangan usia.
Humor khasnya yang kadang absurd, dipadu dengan latar keseharian di Kota Kasukabe bersama keluarga dan teman-temannya, menjadi kekuatan utama yang membuat serial ini tetap relevan hingga kini.
3. Nintama Rantaro
Nintama Rantaro merupakan salah satu anime anak-anak terlama yang pernah diproduksi.
Serial ini terdiri dari lebih dari 2.321 segmen berdurasi pendek (sekitar 10 menit per episode) yang terus diproduksi hingga sekarang.
Anime ini berkisah tentang kehidupan Rantaro dan teman-temannya di Sekolah Ninja Doremisaka.
Dengan perpaduan komedi slapstick dan elemen edukatif, anime ini mampu mengenalkan sejarah Jepang, terutama periode Sengoku, melalui lelucon visual dan dialog yang ringan.
Karakter utamanya Rantar yang ceroboh, Shinbei yang cerdas tapi penakut, dan Kirimaru yang tamak telah menjadi ikon tersendiri dalam budaya pop Jepang, terutama bagi generasi yang tumbuh pada 90-an dan 2000-an
4. Chibi Maruko-chan
Meski terlihat seperti serial satu musim, Chibi Maruko-chan sebenarnya adalah anime panjang yang tayang sejak tahun 1995 dan terus diproduksi hingga kini.
Dengan total sekitar 1.417 episode, anime ini jauh melampaui serial musiman biasa yang hanya berisi 12 atau 24 episode.
Kisahnya sederhana: kehidupan sehari-hari seorang gadis SD bernama Maruko yang tinggal bersama keluarganya.
Namun, kesederhanaan itulah yang membuat anime ini begitu hangat dan dicintai.
Maruko, dengan segala tingkah lucunya, mampu merefleksikan kehidupan keluarga Jepang pada umumnya, menjadikannya relatable dan tak lekang oleh waktu.
5. Case Closed / Detective Conan
Anime detektif legendaris ini pertama kali tayang pada tahun 1996 dan masih berlanjut hingga hari ini dengan lebih dari 1.158 episode.
Mengangkat kisah Shinichi Kudo, seorang detektif remaja yang tubuhnya menyusut menjadi anak kecil, Detective Conan berhasil mempertahankan ketegangan dan kejutan dalam setiap episodenya.
Daya tarik utamanya terletak pada kecerdikan Conan dalam memecahkan berbagai kasus pembunuhan yang kompleks, diselingi dengan misteri besar mengenai Organisasi Hitam yang belum juga terungkap tuntas hingga sekarang.
Serial ini juga terus melahirkan film layar lebar tahunan yang laris di bioskop Jepang dan internasional.
6. Pokémon
Tayang perdana pada 1997, Pokémon mengisahkan perjalanan Ash Ketchum bersama Pikachu dan para Pokémon lainnya.
Setelah 25 tahun petualangan, cerita utama Ash resmi berakhir pada 2023 dengan total 1.232 episode.
Namun, cerita Pokémon berlanjut lewat Pokémon Horizons, serial baru yang memperkenalkan karakter dan petualangan baru.
Jika digabungkan, jumlah total episode Pokémon telah mencapai 1.269 dan franchise ini terus berkembang, baik dalam bentuk game, film, kartu, maupun merchandise global.
7. Ojarumaru
Anime bergenre isekai ini pertama kali tayang pada 1998 dan masih diproduksi hingga kini dengan total sekitar 1.917 episode.
Ojarumaru menceritakan kisah seorang pangeran kecil dari zaman Heian yang tak sengaja masuk ke era modern lewat sebuah portal.
Dengan gaya penceritaan yang ringan, penuh humor, dan cocok untuk anak-anak, Ojarumaru tetap menjadi tayangan favorit keluarga.
Karakter Ojarumaru yang lucu dan polos berhasil memikat penonton muda sekaligus menyampaikan pesan moral sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
8. Soreike! Anpanman
Tayang sejak tahun 1988, Anpanman mengisahkan pahlawan berkepala roti yang berjuang melawan Baikinman dan antek-anteknya demi melindungi anak-anak.
Anime ini memiliki jumlah episode yang luar biasa sekitar 1.572 episode dan tetap tayang secara rutin.
Lebih dari sekadar tontonan anak-anak, Anpanman telah menjadi simbol kebajikan dan keberanian, serta mendapat tempat khusus di hati anak-anak Jepang.
Karakternya begitu populer hingga melahirkan taman hiburan, museum, dan ribuan produk merchandise di seluruh Jepang.
9. One Piece
Dimulai pada tahun 1999, One Piece adalah kisah epik tentang Luffy dan kru Topi Jerami dalam pencarian harta karun legendaris One Piece.
Anime ini kini telah menayangkan lebih dari 1.124 episode, dan masih berlanjut seiring manga-nya yang juga belum tamat.
Dengan alur cerita yang penuh liku, dunia yang kompleks, dan karakter yang kuat, One Piece terus memikat jutaan penggemar di seluruh dunia.
Serial ini bahkan telah memasuki arc akhir dan menjadi salah satu anime paling berpengaruh sepanjang masa.
Kesembilan anime di atas membuktikan bahwa dengan kombinasi cerita yang menarik, karakter yang kuat, serta dukungan penggemar yang loyal, sebuah serial bisa hidup dan berkembang selama puluhan tahun.
Meskipun jalan ceritanya belum berakhir, mereka telah menorehkan jejak tak terlupakan dalam sejarah anime. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni