Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

14 Film Animasi yang Diadaptasi Jadi Live Action: Dari The Lion King hingga How to Train Your Dragon

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 11 Juli 2025 | 16:52 WIB

 

Aladdin menjadi film animasi yang diadaptasi
Aladdin menjadi film animasi yang diadaptasi

RADARTUBAN - Belakangan ini, dunia perfilman tengah dilanda tren besar: adaptasi film kartun menjadi live action.

Mulai dari The Lion King, Aladdin, hingga How to Train Your Dragon, banyak film animasi legendaris yang "dihidupkan" kembali dengan versi nyata menggunakan aktor sungguhan dan teknologi CGI mutakhir.

Lalu, apa sebenarnya alasan di balik gelombang adaptasi ini? Salah satu alasan utama studio film menggarap ulang kartun ke dalam bentuk live action adalah kekuatan nostalgia.

Generasi yang tumbuh besar dengan film-film animasi tahun 80-an, 90-an, hingga awal 2000-an kini telah dewasa, dan masih memiliki ikatan emosional dengan cerita-cerita itu.

Menghadirkan ulang karakter ikonik dalam format baru adalah cara efektif untuk menarik penonton lama sekaligus mengenalkan cerita tersebut kepada generasi baru.

"Live action seperti menghadirkan kembali masa kecil, tapi dengan kemasan yang lebih modern," ujar Evan Pratama, penggemar film animasi di Tuban.

Selain faktor emosional, adaptasi live action juga menjanjikan keuntungan besar secara ekonomi.

Studio besar seperti Disney, DreamWorks, hingga Netflix menyadari bahwa film animasi klasik memiliki potensi pasar yang luas.

Dengan menggandeng teknologi CGI dan bintang terkenal, film live action bisa mendulang pendapatan lebih tinggi dari box office, penjualan merchandise, hingga platform streaming.

Contohnya, The Lion King (2019) versi live action berhasil meraup lebih dari 1,6 miliar dolar AS di seluruh dunia, membuktikan bahwa formula ini sangat menguntungkan secara komersial.

Satu dekade lalu, menghidupkan karakter kartun secara realistis di layar lebar mungkin terasa mustahil.

Namun kemajuan teknologi visual dan animasi komputer memungkinkan hal itu terjadi.

Teknologi CGI (Computer Generated Imagery) yang semakin halus membuat binatang bisa tampak hidup dan lingkungan fantasi terasa nyata.

Inilah yang membuat studio percaya diri untuk menerjemahkan cerita animasi ke bentuk yang lebih nyata dan sinematik.

Dalam beberapa kasus, versi live action juga memberi ruang untuk eksplorasi cerita yang lebih kompleks.

Sutradara bisa memperluas latar belakang karakter, menambahkan konflik baru, atau menyisipkan pesan-pesan relevan dengan isu masa kini.

Hal ini memberi nilai tambah dibanding versi animasi yang biasanya berdurasi lebih pendek dan ditujukan untuk penonton anak-anak.

Meski demikian, tak semua adaptasi live action mendapat sambutan positif. Sebagian penonton menilai versi live action kehilangan keajaiban dan ekspresi khas animasi.

Kritik juga muncul jika jalan cerita tidak setia pada versi aslinya atau terlalu fokus pada efek visual semata.

Namun, terlepas dari pro dan kontra, tren adaptasi ini tampaknya masih akan terus berlanjut.

Dengan daftar panjang judul klasik yang belum digarap ulang, industri perfilman global masih melihat potensi besar dalam menghidupkan kembali dunia animasi ke dalam realitas layar lebar.

Film yang Diadopsi dari Animasi

  1. Beauty and the Beast (2017)

Diadaptasi dari animasi klasik tahun 1991. Dibintangi Emma Watson dan Dan Stevens. Sukses besar secara komersial dan mendapat pujian atas set dan kostum.

  1. The Lion King (2019)

Menggunakan CGI realistik, film ini menampilkan suara Donald Glover, Beyoncé, dan James Earl Jones. Meski disebut “live action,” seluruh film sebenarnya animasi realistis.

  1. Aladdin (2019)

Will Smith berperan sebagai Genie. Film ini menghadirkan nuansa musikal dan visual Timur Tengah yang megah.

  1. Cinderella (2015)

Salah satu live action pertama dari Disney yang membuktikan kesuksesan formula ini.

  1. The Little Mermaid (2023)

Diperankan oleh Halle Bailey sebagai Ariel. Mendapat sorotan karena keberagaman cast dan pendekatan modern terhadap cerita klasik.

  1. Mulan (2020)

Versi ini lebih berfokus pada aksi dan tidak menampilkan tokoh naga Mushu, berbeda dari versi animasinya tahun 1998.

  1. Peter Pan & Wendy (2023)

Tayang di Disney+. Lebih gelap dan bernuansa petualangan dibanding versi kartunnya.

  1. Pinocchio (2022)

Diperankan Tom Hanks sebagai Geppetto. Menggabungkan CGI dan akting langsung.

  1. Dumbo (2019)

Disutradarai oleh Tim Burton, dengan gaya visual yang khas dan nuansa emosional yang lebih dalam.

  1. How to Train Your Dragon (2025)

Versi live action dari film animasi DreamWorks yang sangat populer. Proyek ini banyak dinantikan karena karakter Hiccup dan Toothless sangat ikonik.

  1. Avatar: The Last Airbender (Netflix, 2024)

Meski bukan film, serial live action ini mengadaptasi kartun populer Nickelodeon. Versi film sebelumnya (2010) banyak dikritik, tapi versi Netflix lebih menjanjikan.

  1. Scooby-Doo (2002 & 2004)

Adaptasi live action dari serial kartun legendaris. Menjadi cult classic bagi banyak penggemar.

  1. The Smurfs (2011)

Menggabungkan aktor manusia dan karakter CGI dalam dunia nyata.

  1. Detective Pikachu (2019)

Berasal dari anime dan video game Pokémon. Ryan Reynolds mengisi suara Pikachu, menjadikan film ini sukses besar secara global.(saf/yud)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kartun #CGI #The Lion King #Aladin #Film Animasi yang Diadaptasi #film animasi #Live-Action