Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Profil Akaza dari Demon Slayer: Lebih Dari Sekedar Villain, Dia Adalah Representasi Dari Kompleksitas Manusia

Andika Julia Perdana Putra • Jumat, 22 Agustus 2025 | 13:10 WIB
Akaza, sosok iblis yang melambangkan betapa kompleksnya manusia.
Akaza, sosok iblis yang melambangkan betapa kompleksnya manusia.

RADARTUBAN - Berbicara mengenai serial anime populer, siapa yang tidak mengenal Demon Slayer atau dalam bahasa Jepang disebut Kimetsu no Yaiba?

Serial anime yang diangkat dari manga dengan judul yang sama ini dengan cepat mendapatkan kepopuleran bukan hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia.

Pertarungan antara iblis dan manusia dibungkus dengan cerita yang menarik dan menegangkan sukses mencuri banyak perhatian dari pencinta anime.

Apalagi beberapa karakter dalam serial tersebut menjadi favorit penonton, termasuk Iblis bernama Akaza.

Kendati berada pada pihak iblis, Akaza menjadi tokoh yang menarik berkat kemampuan bela dirinya ditengah dominasi tokoh lain yang menggunakan pedang (katana) sebagai senjata utamanya.

Upper Moon peringkat tiga ini dikenal karena kesetiaannya pada Muzan serta pertarungan yang ikonik melawan Rengoku Kyojuro pada Arc Mugen Train.

Akaza menjadi salah satu tokoh yang sangat membeci sosok yang lemah. Sebagai iblis, dia terus memakan manusia guna meningkatkan kemampuan tempurnya serta regenerasi yang lebih cepat.

Hal ini menjadikannya salah satu iblis yang paling kuat hingga membuat banyak hashira tumbang saat mencoba melawannya, termasuk Rengoku Kyojuro.

Latar Belakang Akaza

Sebelum menjadi iblis, Akaza bernama Hakuji, sesosok anak yang lahir dari keluarga miskin di Jepang kala itu. Dengan keterbatasan harta, Akaza kecil mencoba merawat ayahnya yang sakit-sakitan setelah ditinggal mati ibunya.

Bahkan Hakuji rela mencuri harta benda orang lain demi mengobati ayahnya yang tengah sakit parah.

Beberapa kali dia dihukum oleh pihak berwajib karena kelakuannya tersebut, yang menyebabkan Hakuji memiliki beberapa tatto sebagai bentuk tanda kriminal.

Setelah ayahnya meninggal karena bunuh diri, Hakuji bertemu dengan pelatih bela diri di sebuah dojo. Dia diangkat menjadi murid dan diperkenalkan dengan Koyuki, anak dari Keizo, gurunya.

Pada titik inilah Hakuji memulai masa 'move on' dari kematian ayahnya. Dia seolah mendapatkan semangat baru untuk terus hidup dan menjadi pribadi yang lebih baik berkat pengajaran yang diberikan oleh gurunya.

Hakuji resmi menjadi tunangan Koyuki setelah ayahnya merestui hubungan mereka berdua. Tetapi naas, takdir kembali berkata lain.

Ketika Hakuji kembali dari bepergian, dia melihat gurunya Keizo, dan tunangannya Koyuki tewas diracuni oleh sekelompok orang dari dojo saingan gurunya.

Melihat hal ini, Hakuji seketika naik pitam dan menghajar seluruh orang yang menjadi dalang dari kematian guru dan tunangannya tersebut.

Kemarahan Hakuji ini terdengar hingga ke telinga raja iblis, Kibutsuji Muzan. Kemarahan pada diri Hakuji serta hilangnya rasa ingin hidup akibat ditinggal oleh orang yang dia sayangi membuat Hakuji beralih menjadi sosok iblis bernama Akaza.

Akaza Dalam Psikologis

Kehilangan ayah ibunya, gurunya dan tunangannya membuat Hakuji menderita luka batin yang cukup dalam.

Kejadian ini juga membuat Hakuji menganggap dirinya lemah karena tidak mampu melindungi orang yang dia sayangi.

Ketidaksukaan terhadap sifat lemah ini dapat dikaitkan dengan toxic masculinity. Dimana dalam istilah tersebut, laki-laki dituntut untuk memiliki sifat atau berperilaku tertentu, termasuk menjadi kuat.

Dalam hal ini Akaza terus dituntut untuk menjadi yang terkuat demi melindungi orang yang berharga baginya.

Sifat obsesi terhadap kekuatan tetap dia bawa saat menjadi iblis, kendati dia memiliki prinsip yang cenderung unik dari para iblis lainnya yakni tidak akan memakan wanita.

Meskipun tidak dijelaskan alasan pastinya, tetapi banyak fans percaya prinsip Akaza tersebut berkaitan dengan Koyuki, tunangannya dahulu.

Setelah menjadi Ibis, Akaza tunduk sepenuhnya pada otoritas Kibutsuji Muzan. Hal ini dapat terjadi karena Muzan sering kali memanipulasi trauma yang terjadi pada iblis bawahannya. Disisi lain Akaza mencari validasi atas semua yang dia derita termasuk kehilangan semua orang yang dia sayangi.

Dalam teori yang digagas oleh tokoh psikologi Sigmund Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga hal, yakni id, Ego dan Superego. Id merupakan insting liar dari manusia. Ego adalah sifat penengah yang membuat manusia tetap waras. Sedangkan Superego adalah moral yang mampu membedakan antara benar dan salah.

Efek dari seluruh kejadian dan trauma yang dialami, dapat dikatakan Hakuji kehilangan dua dari tiga hal diatas, dan hanya menyisakan Id. Hasilnya lahirlah seorang iblis, bukan karena ingin, tetapi karena dunia lah yang seolah menciptakannya.

Pertarungannya dengan Rengoku Kyojuro, menjadi salah satu hal yang paling diingat oleh penggemar.

Pertarungan ini bukan hanya menggambarkan duel antara pemburu iblis dan iblis itu sendiri.

Lebih jauh, duel Akaza dan Rengoku menjadi simbol dari sifat yang bertolak belakang. Akaza yang memiliki sifat haus akan kekuatan, keabadian, dan membenci yang lemah bertemu dengan sifat Rengoku yang menerima keterbatasan dan kelemahannya sebagai manusia.

Pertarungan tersebut seolah menggambarkan konflik dari penolakan atas trauma yang terjadi dengan penerimaan realitas

Sebuah Penerimaan Masa Lalu

Akhir cerita dari Akaza ada pada Arc Infinity Castle yang menjadi salah satu film anime paling populer saat ini.

Dimana pada film tersebut, Akaza atau Hakuji telah kembali mengingat masa lalunya sebagai manusia.

Disaat itu, perlahan Akaza menerima semua masa lalu dan traumanya, serta berdamai dengan semua yang terjadi padanya. Hal yang terjadi pada Akaza tersebut kerap disebut dengan closure.

Meskipun istilah itu sering kali digunakan dalam suatu hubungan, tetapi pada intinya, closure adalah penerimaan dan berdamai dengan apa yang terjadi. Menerima dengan lapang dada trauma masa lalu dapat membuat seseorang melanjutkan kehidupannya dengan rasa lebih baik tanpa ada bayangan trauma.

Dalam kasus Akaza, closure membuat dia terbebas dari obsesi berlebihan untuk menjadi lebih kuat, dan menerima kenyataan bahwasanya apa yang terjadi sudah menjadi garis yang ditakdirkan untuknya.

Simbol ini secara jelas dihadirkan dalam cerita utama Demon Slayer, dimana Akaza diterima kembali oleh orang-orang yang dia cintai seperti Ayahnya, Gurunya, dan Koyuki tunangannya.

Akaza tidak hanya tokoh antagonis dalam serial anime ini, tetapi dia merepresentasikan betapa kompleksnya luka batin dari manusia.

Dari sisi psikologis, Akaza memperlihatkan rasa kecewa, kehilangan dapat mengubah seseorang secara drastis.

Dari Akaza kita bisa belajar, kekuatan sejati bukan terletak pada tenaga, atau kemampuan teknis, tetapi kekuatan sejati berasal dari penerimaan, keberanian menghadapi kenyataan yang pahit, dan kemudian bangkit untuk terus melanjutkan hidup. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#iblis #anime #muzan #Demon Slayer #akaza #senjata #katana #manusia