RADARTUBAN - Di banyak daerah di Indonesia, pernikahan bukan cuma soal ijab kabul dan resepsi.
Dia adalah rangkaian panjang tradisi, salah satunya yang paling meriah dan penuh rasa: iring-iring manten.
Sebuah prosesi di mana keluarga calon pengantin datang membawa aneka makanan, jajanan, roti, dan kadang juga syarat-syarat khas daerah masing-masing.
Bukan sekadar hantaran, tapi simbol rasa hormat, doa, dan harapan.
Bayangkan satu rombongan datang ke rumah calon pengantin, lengkap dengan nampan berisi gemblong, wajik, lemper, dan roti sobek.
Ada yang membawa dalam tampah, ada yang pakai keranjang rotan, bahkan ada yang dihias seperti sesajen.
Semua dibawa dengan hati-hati, karena ini bukan sekadar makanan, tapi juga pesan.
Jajanan Bukan Sembarang Jajanan
Setiap daerah punya versi iring-iringnya sendiri. Di Jawa, gemblong sering jadi syarat. Di tempat lain, bisa berupa wajik atau jenang.
Ada makna di balik setiap jenis makanan. Gemblong yang lengket melambangkan harapan agar hubungan pengantin lengket dan awet.
Wajik yang manis dan padat melambangkan rezeki dan kekompakan.
Dan kadang, ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Misalnya, jumlah jajanan harus ganjil, atau harus ada satu jenis makanan yang dibuat sendiri, bukan beli.
Ini bukan soal repot, tapi soal menjaga nilai. Karena dalam tradisi, yang penting bukan praktis, tapi makna.
Iring-Iringan yang Penuh Rasa
Prosesi iring-iring manten biasanya dilakukan sebelum hari H, sebagai bentuk silaturahmi dan penegasan bahwa dua keluarga siap bersatu.
Rombongan datang dengan pakaian rapi, kadang diiringi musik tradisional, dan tentu saja dengan senyum yang kadang canggung tapi tulus.
Ada juga yang ketika hari H. tergantung daerahnya. Beda tempat, beda tradisi tentu saja.
Di beberapa tempat, iring-iringan ini bisa jadi tontonan warga. Anak-anak ikut berlari, tetangga ikut menyambut, dan suasana jadi seperti pasar dadakan.
Tapi bukan pasar biasa—ini pasar rasa, pasar harapan, dan pasar budaya.
Tradisi yang Membawa Lebih dari Sekadar Makanan
Iring-iring manten adalah bukti bahwa pernikahan bukan hanya soal dua orang, tapi soal dua keluarga, dua kampung, bahkan dua dunia yang bertemu.
Dan makanan yang dibawa bukan sekadar konsumsi, tapi simbol. Simbol cinta, simbol doa, dan simbol bahwa hidup bersama harus dimulai dengan rasa.
Karena dalam tradisi kita, makanan bukan cuma untuk dimakan.
Dia adalah bahasa. Dan lewat gemblong, wajik, dan roti sobek, kita belajar bahwa cinta bisa dibungkus dalam tampah, dan harapan bisa diantar dengan senyum. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama