RADARTUBAN - Di banyak daerah di Indonesia, sunatan bukan sekadar prosedur medis. Ia adalah peristiwa budaya.
Dan salah satu tradisi yang paling meriah adalah manten sunat, sebuah prosesi di mana anak yang disunat diperlakukan layaknya pengantin.
Lengkap dengan pakaian adat, arak-arakan, bahkan duduk di pelaminan.
Sebuah momen yang membuat anak kecil jadi raja sehari.
Tradisi ini tidak hanya ada di Betawi saja, di Demak, Mojokerto, dan berbagai daerah di Jawa Timur, manten sunat masih dijalankan dengan semangat gotong royong dan rasa bangga.
Karena bagi masyarakat, sunatan bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal transisi. Dari anak-anak menuju remaja. Dari bermain ke belajar tanggung jawab.
Diarak, Dipajang, dan Didoakan
Tiap daerah punya versinya sendiri. Ada yang mengarak anak keliling kampung, naik kuda atau mobil hias, diiringi musik tradisional.
Ada pula yang hanya “memajang” sang anak di semacam pelaminan, lengkap dengan dekorasi dan tamu undangan. Bahkan ada yang menyewa MC dan fotografer, layaknya resepsi pernikahan.
Anak yang disunat biasanya memakai pakaian adat, lengkap dengan blangkon atau mahkota kecil.
Duduk di kursi khusus, menerima tamu, dan kadang harus senyum meski dalam hati deg-degan.
Merayakan sunat
Manten sunat adalah bentuk penghormatan. Orang tua ingin menunjukkan bahwa anaknya sudah siap menjalani fase baru.
Maka, pesta digelar. Ada tumpeng, ada hiburan, dan tentu saja—ada amplop. Tamu datang membawa doa dan sumbangan, sebagai bentuk dukungan dan partisipasi.
Dan meski pesta ini kadang lebih mirip resepsi pernikahan, tidak ada yang merasa berlebihan.
Karena dalam tradisi kita, merayakan momen penting adalah bagian dari kebersamaan. Bahkan anak-anak lain jadi termotivasi: “Aku juga mau disunat, biar bisa naik kuda!”
Tradisi yang Membuat Sunat Jadi Cerita
Manten sunat adalah bukti bahwa tradisi bisa mengubah momen menegangkan jadi kenangan menyenangkan.
Ini bukan sekadar seremoni, tapi juga cara masyarakat memberi semangat, memberi makna, dan memberi rasa bangga kepada anak-anak.
Karena dalam budaya kita, bahkan hal yang perih pun bisa dirayakan. Dan lewat manten sunat, kita belajar bahwa transisi hidup tidak harus sunyi.
Ini bisa meriah, bisa lucu, dan bisa jadi cerita yang diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama