RADARTUBAN - Pernahkah kamu membayangkan bisa benar-benar memahami apa yang dirasakan hewan peliharaanmu?
Mulai dari kenapa ia tiba-tiba gelisah, mogok makan, atau justru terlihat sangat bahagia?
Ternyata, ada profesi unik yang mengklaim mampu menjembati komunikasi antara manusia dan hewan, yakni animal communicator atau komunikator hewan.
Seorang animal communicator bernama dr. Anggie mengungkapkan pada Senin (14/7), dalam podcast Iso-Late Show yang tayang di YouTube Everest Media, bahwa hewan dapat menyampaikan pesan melalui energi dan intuisi.
“Hewan itu bisa bicara dengan caranya sendiri, hanya saja manusia sering tidak paham. Saya membantu menerjemahkan pesan itu agar lebih dimengerti,” ujarnya.
Profesi komunikator hewan masih terdengar asing bagi banyak orang, tetapi praktik ini dipercaya mampu membantu pemilik peliharaan memahami kondisi batin maupun kebutuhan hewan.
Komunikator hewan disebut mampu menangkap pesan yang tidak terucap lewat bahasa lisan, melainkan melalui intuisi, energi, dan bahasa nonverbal.
Dengan melalui metode tersebut diharapkan dapat membantu pemilik hewan lebih peka terhadap kondisi peliharaannya.
Salah satu contoh menarik adalah ketika seekor anjing menunjukkan perilaku gelisah setelah berpindah rumah.
Melalui proses komunikasi, diketahui bahwa hewan tersebut merasa tidak nyaman dengan lingkungan barunya.
Informasi ini kemudian membantu pemilik dalam mengambil keputusan yang tepat agar hewan kembali merasa tenang.
Contoh tersebut menunjukkan bagaimana profesi ini bisa memberi manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu dipahami, profesi ini tidak dimaksudkan untuk mengganti peran dokter hewan. Fokusnya bukan pada diagnosis penyakit atau pemberian obat, melainkan pada penguatan ikatan emosional antara manusia dan hewan.
“Kami tidak mendiagnosis penyakit, hanya menjadi jembatan komunikasi agar hubungan lebih harmonis,” jelas dr. Anggie.
Dengan begitu, hubungan yang terjalin bisa lebih harmonis karena pemilik lebih peka terhadap pesan yang ingin disampaikan peliharaan.
Selain itu, dengan komunikasi yang tepat, pemilik dapat memberikan perhatian lebih pada aspek emosional peliharaan.
Fenomena ini menimbulkan beragam reaksi.
Sebagian orang meragukan kebenarannya, sementara sebagian lain merasa terbantu karena bisa memahami hewan kesayangan mereka dengan lebih baik.
Bagi pemilik hewan yang kerap bingung membaca perilaku peliharaan, profesi ini bisa menjadi salah satu alternatif.
Selain itu, keberadaan komunikator hewan memperlihatkan bahwa hubungan manusia dan hewan bisa lebih kompleks daripada sekadar interaksi fisik.
Ada sisi batin yang kerap luput disadari, namun sesungguhnya berperan besar dalam menjaga kesejahteraan hewan.
Dengan komunikasi yang tepat, pemilik dapat memberikan perhatian lebih pada aspek emosional peliharaan.
Profesi komunikator hewan memang belum banyak dikenal di Indonesia, tetapi kehadirannya membuka cara pandang baru tentang relasi manusia dengan hewan.
Lebih dari sekadar memberi makan dan merawat, ternyata ada ruang komunikasi batin yang bisa menjalin kedekatan lebih dalam.
Kadang, rasa dan energi justru menjadi jembatan paling jujur dalam menyampaikan pesan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama