RADARTUBAN – Tiga dekade berkarya, Superman Is Dead (SID) kembali membuka lembaran gelap dan terang perjalanan panjang mereka.
Dalam wawancara eksklusif yang tayang di kanal YouTube Rockaroma ID band punk rock legendaris asal Bali ini membeberkan kisah kontroversi, idealisme yang dibayar mahal, hingga rencana konser akbar 30 tahun.
Dari Panggung Dibakar hingga Rekaman di Balik Jeruji
Sejak terbentuk pada 1995 di Kuta, perjalanan SID jauh dari kata mulus. Bobby Kool (vokal/gitar), Eka Rock (bass/vokal latar), dan Jerinx (drum) menghadapi berbagai ujian ekstrem.
Puncak badai terjadi ketika mereka memutuskan masuk ke major label Sony Music pada 2003. Keputusan ini memicu reaksi keras dari sebagian penggemar punk yang menganggap mereka “pengkhianat.”
Insiden paling mengerikan terjadi saat panggung SID di Medan dibakar massa.
Jerinx bahkan sempat dilempari kotoran manusia saat tampil hingga panitia terpaksa mengevakuasi band. “Yang paling parah itu waktu di Medan, panggung kita dibakar,” kenang Bobby Kool.
Kericuhan juga pernah membuat mereka harus bersembunyi di masjid di belakang panggung saat tampil di Yogyakarta.
“Waktu itu kita kayak mualaf beberapa menit,” ujar Jerinx sambil tertawa getir.
Kreativitas Tak Terbatas Tembok Besi
Kasus hukum yang menjerat Jerinx tidak menghentikan langkah SID.
Justru dari balik jeruji, mereka mencetak sejarah sebagai band Indonesia pertama yang merekam album di dalam penjara.
Bagi Bobby dan Eka, ini bukan alasan untuk berhenti, melainkan bukti bahwa karya musik tak bisa dibatasi tembok besi maupun sistem yang mencoba mengekang.
Demokratis dan Setara
Meski dihantam badai kritik, kekompakan SID tetap kokoh. Setelah 30 tahun bersama, Jerinx, Bobby, dan Eka mengaku sudah seperti memiliki “telepati.”
Perdebatan soal musik atau setlist dianggap sebagai tanda sehatnya sebuah band. Prinsip utama mereka jelas: demokratis dan equality, tanpa personel utama atau tambahan.
Ketiganya juga punya latar belakang unik yang saling melengkapi. Eka Rock pernah menjadi hacker dan bekerja di bidang IT, Jerinx sempat menjadi wartawan lepas, sedangkan Bobby Kool berprofesi sebagai graphic designer.
Peran mereka terbagi alami: Bobby mengurus artwork dan merchandise, Jerinx fokus propaganda, sementara Eka menangani unggahan digital.
Baca Juga: Sakit Hati Nama Band Diklaim Sepihak, Mantan Vokalis Kotak Ajukan Kasasi ke Mahkamah Agung
Bersiap “Distorsi Tiga Dekade SID”
Kini SID tengah bersiap menggelar konser besar bertajuk Distorsi Tiga Dekade SID pada 17 Agustus 2025 di Ex Hanggar Teras Pancoran, Jakarta Selatan.
Dengan target 30 lagu dalam 2 jam, mereka makin disiplin menjaga tubuh lewat olahraga, terutama kardio.
Meski tetap idealis menolak sequencer dan metronome karena dianggap “membunuh soul,” SID sadar panggung besar butuh kerapian.
Mereka pun menggandeng additional player agar sajian tetap meledak-ledak sekaligus solid.
Konser ini diyakini akan menjadi pembuktian bahwa setelah 30 tahun, punk rock dari Kuta Rock City masih bernyala terang, menolak padam, dan terus menggetarkan ribuan kepala yang siap berlompat bersama.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup obrolan, Jerinx menyampaikan pesan yang menjadi napas perjuangan SID: “Yang harus dimiliki itu mandiri, punya rasa idealis, dan memiliki pergerakan (movement) ke hal yang positif.”
Prinsip ini merefleksikan perjalanan SID yang awalnya hanya untuk bersenang-senang, namun berkembang menjadi sebuah gerakan yang keras kepala menolak kalah oleh keadaan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni