RADARTUBAN - Film horor terbaru Getih Ireng yang diproduksi oleh Hitmaker Studios mengangkat kisah seram dari utas viral di media sosial milik @JeroPoint.
Film ini akan tayang di bioskop mulai (16/10), menghadirkan teror santet bernama Getih Ireng yang menyasar darah keturunan sebuah keluarga.
Cerita fokus pada pasangan suami istri, Pram (Darius Sinathrya) dan Rina (Titi Kamal), yang sudah lama menantikan kehadiran anak.
Namun, kebahagiaan mereka terusik karena Rina mengalami keguguran berulang kali.
Di balik tragedi ini tersimpan kutukan santet kuno Getih Ireng, ilmu hitam yang dipercaya mampu memutus garis keturunan keluarga dengan menyerang darah mereka.
Dalam menghadapi teror tersebut, Pram dan Rina harus menentukan sikap apakah mereka akan berjuang melawan kutukan atau menyerah pada nasib tanpa keturunan.
Film ini bukan hanya sekedar horor dengan banyak jumpscare, tapi juga memadukan drama keluarga dan konflik batin yang kuat.
Selain itu, Getih Ireng menampilkan nuansa budaya Jawa yang kental melalui adegan-adegan ritual tradisional, mantra, dan simbol-simbol khas yang menambah kedalaman cerita dan membuat kengerian terasa lebih realistis.
Sutradara Tommy Dewo yang sebelumnya sukses dengan film Santet Segoro Pitu, kembali dipercaya untuk menggarap film ini.
Pemeran utama selain Titi Kamal dan Darius Sinathrya juga termasuk Sara Wijayanto.
Film ini dinilai untuk penonton usia 17 tahun ke atas karena mengandung unsur kekerasan dan teror.
Dengan latar budaya lokal dan cerita yang diangkat dari kisah nyata yang viral, Getih Ireng menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling dinantikan tahun ini.
Penonton diajak merasakan ketegangan sekaligus emosi dari pasangan yang bergelut dengan kutukan dan teror supranatural yang membayangi kehidupan mereka.
Film Getih Ireng yang kisahkan pasangan diteror kutukan darah mematikan belum diumumkan akan tayang di link streaming resmi apa.
Baik dari WeTV, Netflix, Disney Hotstar masih belum mengonfirmasi akan menayangkan film yang terinspirasi kisah nyata viral dan sarat budaya Jawa mistis. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama