RADARTUBAN – Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya buka suara terkait polemik candaan lamanya yang menyinggung adat dan budaya Toraja.
Ia menyatakan siap menjalani proses hukum, baik secara negara maupun adat, sebagai bentuk tanggung jawab atas leluconnya yang menuai kecaman.
Dihadapkan Dua Jalur Hukum: Negara dan Adat
Pandji kini berada di tengah dua proses hukum. Selain laporan resmi ke Bareskrim Polri oleh Aliansi Pemuda Toraja, masyarakat Toraja juga tengah menempuh proses hukum adat.
Menurut Pandji, keduanya adalah konsekuensi yang harus ia hadapi secara terbuka.
“Saya siap menjalani prosesnya, termasuk hukum adat yang memang harus dilakukan langsung di wilayah Toraja,” ungkapnya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Diskusi dengan AMAN untuk Penyelesaian Adat
Dalam pernyataannya, Pandji mengaku telah berdiskusi dengan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, untuk mencari jalan penyelesaian yang terbaik secara adat.
Namun, jika kesepakatan damai tidak tercapai, ia menyatakan siap menjalani seluruh proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
“Saya ingin menempuh cara yang benar dan menghormati nilai-nilai adat Toraja,” ujarnya.
Sampaikan Permintaan Maaf Terbuka ke Masyarakat Toraja
Pandji juga menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada seluruh masyarakat Toraja.
Ia mengakui bahwa materi stand up comedy-nya beberapa tahun lalu memang bisa dianggap menyinggung dan tidak sensitif terhadap budaya lokal.
“Saya menyesal dan meminta maaf. Candaan itu mungkin terdengar lucu saat itu, tapi saya sadar sekarang bahwa hal itu bisa menyakiti banyak pihak,” tulis Pandji.
Candaan Soal Rambu Solo Jadi Sumber Masalah
Masalah ini mencuat kembali setelah potongan video stand up Pandji yang membahas tradisi pemakaman adat Toraja, Rambu Solo, kembali viral di media sosial.
Aliansi Pemuda Toraja menilai, lelucon tersebut mengandung unsur pelecehan terhadap adat dan kepercayaan leluhur, sehingga melaporkannya secara resmi ke pihak berwenang.
Pandji Janji Hormati Proses Hukum
Meski menuai kritik tajam, Pandji menegaskan akan menghormati seluruh proses yang sedang berjalan, baik dari pihak kepolisian maupun lembaga adat.
“Saya akan mengikuti setiap tahapan hukum dengan terbuka. Saya percaya penyelesaian ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih peka terhadap kebudayaan,” tuturnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni