RADARTUBAN - Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar.
Menurut pakar dan Managing Director Expert Consultant, Eileen Rachman, dalam podcast Women Value yang tayang di kanal YouTube Radio Elshinta pada Selasa (2/9), kualitas SDM nasional saat ini belum berada di level yang optimal, bahkan belum mencapai angka delapan dalam skala 10.
Kondisi ini menuntut adanya pergeseran fokus, terutama bagi generasi muda, agar lebih memprioritaskan karya dan mencari tujuan yang jelas, alih-alih mengejar validasi.
Pakar yang telah berkecimpung selama puluhan tahun di bidang pengembangan manusia ini menjelaskan bahwa permasalahan mendasar berasal dari sejarah panjang, di mana masyarakat Indonesia cenderung tidak menghargai diri sendiri sebagai aset atau modal.
Walaupun pandangan ini perlahan membaik, khususnya dalam satu dekade terakhir, Eileen Rachman menilai pekerjaan rumahnya masih menumpuk.
"SDM Indonesia ini belum dalam taraf, dari angka 1 sampai 10 belum dapat angka delapan. Jadi ya, berarti kerjaanku masih banyak," ujar Eileen, menjelaskan alasan mengapa ia masih aktif berkarya di usia senior.
Dalam menghadapi dinamika generasi terbaru, khususnya Gen Z, Eileen menolak anggapan bahwa mereka adalah generasi yang rapuh.
Menurutnya, perilaku dan pola pikir Gen Z dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal dan teknologi, seperti kecanggihan kecerdasan buatan (AI) yang memberi mereka akses informasi instan dan cepat.
Hal ini menciptakan tantangan baru yakni kebutuhan akan purpose.
"Apa yang dia pikirkan adalah purpose. Nah, kalau kita tidak bisa menyajikan purpose yang sedikit bersifat jangka menengah, maka dia akan bosan," kata Eileen, menyoroti masalah krusial SDM di era digital, yang mana segala sesuatunya telah tersedia.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya produktivitas daripada validasi diri di media sosial. Budaya menghitung likes dan views dinilai hanya sebatas omongan. Kunci kesuksesan, menurutnya, terletak pada hasil kerja nyata.
"Oke, elu cantik, lu segala macam keren, penampilan lu keren, tapi satu, karya lu apa? Kalau karya lu terlihat maka kau tidak perlu validasi. Kau akan diangkat oleh orang, akan dipungut oleh orang," tegasnya.
Bagi kalangan senior, ia berpesan bahwa senioritas tidak berarti usang.
Untuk tetap relevan dan bertumbuh, seseorang tidak boleh hanya mengelu-elukan masa lalu.
Eileen Rachman membagikan resep hidup seimbang yang ia sebut SPICES sebagai panduan untuk menjaga kondisi fisik dan mental agar dapat terus berkarya.
Akronim ini mencakup enam pilar penting: Spirituality (melalui rasa bersyukur), Physical Strength (kekuatan fisik), Intellectuality (terus belajar agar tidak ketinggalan zaman), Creativity (kemampuan mencari jalan keluar yang baru), Emotional Intelligence (kecerdasan emosional), dan Sociability (memperbanyak teman agar hidup lebih berwarna).
Formula ini merupakan kunci bagi setiap individu untuk mencapai keseimbangan holistik di tengah tuntutan zaman.
Dia juga menambahkan bahwa setiap individu, tanpa memandang gender, harus memiliki sosok yang mandiri dan tidak tergantung pada siapa pun.
Editor : Yudha Satria Aditama