RADARTUBAN - Film adaptasi What's Up with Secretary Kim versi Indonesia menghadirkan sentuhan budaya lokal yang kuat untuk menyesuaikan dengan penonton dalam negeri.
Sutradara Rako Prijanto mengungkapkan bahwa adaptasi ini bukan sekedar remake, melainkan mengemas ulang cerita dengan bahasa, situasi, dan nilai budaya Indonesia yang lebih dekat dan relevan.
Formatnya dibuat menjadi film layar lebar berdurasi maksimal 110 menit, bukan serial seperti versi Korea, sehingga cerita disajikan lebih padat dan cepat dengan menjaga inti dari kisah aslinya tetap terasa.
Setting film ini mengambil latar tempat di sebuah perusahaan bernama Jambudwipa dengan karakter-karakter yang menggunakan nama-nama Indonesia, seperti Rendra Prakasa dan Kimberley Laksono.
Suasana kantor, humor, dialog, dan interaksi tokoh dibuat sesuai kebiasaan dan norma masyarakat Indonesia, termasuk dinamika rekan kerja yang penuh gosip, perhatian, serta humor khas anak kantor Indonesia.
Penambahan konflik, seperti kehadiran kakak kandung Rendra yang tidak ada di versi Korea memperkaya jalan cerita, sekaligus memberi warna cerita lokal.
Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris populer, seperti Adipati Dolken dan Mawar Eva De Jongh yang berhasil menciptakan chemistry alami antara karakter utama.
Hadirnya unsur budaya lokal ini membuat film ini lebih "ngenes", lucu, dan mengena di hati masyarakat Indonesia yang akrab dengan cerita tentang loyalitas dan dinamika kerja di kantor.
Film ini tayang eksklusif di platform streaming Vidio mulai 8 November 2025 dan mendapat antusiasme tinggi dari penggemar drakor dan film Indonesia yang penasaran dengan adaptasi lokal ini.
Film What's Up with Secretary Kim versi Indonesia menyajikan adaptasi yang menghormati cerita orisinal sambil mengemasnya dengan sentuhan budaya, gaya hidup, dan nilai khas Indonesia agar lebih mudah diterima dan dirasakan kehangatannya oleh penonton tanah air. (*/lia)
Editor : radar tuban digital